Seorang wanita sedang meneteskan air mata karena sedih

PASAL 24

Tidak Ada yang Dapat ”Memisahkan Kita dari Kasih Allah”

APAKAH Allah Yehuwa mengasihi Saudara secara pribadi? Beberapa orang setuju bahwa Allah mengasihi umat manusia secara umum, seperti yang dinyatakan dalam Yohanes 3:16. Tetapi, pada dasarnya mereka merasa, ’Allah tidak akan pernah dapat mengasihi saya secara pribadi.’ Orang Kristen sejati pun kadang-kadang bisa memiliki keraguan sehubungan dengan hal itu. Karena kecil hati, seorang pria berkata, ”Saya sulit sekali percaya bahwa Allah peduli terhadap diri saya.” Apakah keraguan yang sama adakalanya menyusahkan Saudara?

2 Setan ingin sekali membuat kita percaya bahwa Allah Yehuwa tidak mengasihi ataupun menghargai kita. Memang, Setan sering kali memikat orang dengan membangkitkan kesombongan dan keangkuhan mereka. (2 Korintus 11:3) Tetapi, ia juga senang menghancurkan harga diri orang yang tak berdaya. (Yohanes 7:47-49; 8:13, 44) Ia melakukan hal itu khususnya pada ”hari-hari terakhir” yang sulit dihadapi ini. Dewasa ini, banyak orang dibesarkan dalam keluarga-keluarga yang ”tidak memiliki kasih sayang alami”. Yang lain-lain harus terus-menerus menghadapi orang yang garang, mementingkan diri, dan keras kepala. (2 Timotius 3:1-5) Orang-orang yang bertahun-tahun mendapat perlakuan yang menyakitkan, menghadapi rasialisme, atau kebencian, bisa jadi merasa yakin bahwa mereka tidak berharga atau tidak dapat dikasihi.

3 Jika Saudara menyadari adanya perasaan-perasaan negatif demikian dalam diri Saudara, jangan putus asa. Banyak di antara kita adakalanya secara tidak masuk akal bersikap keras terhadap diri sendiri. Tetapi ingatlah, Firman Allah dirancang untuk ”meluruskan perkara-perkara” dan untuk ”merobohkan perkara-perkara yang dibentengi dengan kuat”. (2 Timotius 3:16; 2 Korintus 10:4) Alkitab mengatakan, ”Kita akan memberikan keyakinan kepada hati kita di hadapan dia berkenaan dengan apa pun jika hati kita menghukum kita, karena Allah lebih besar daripada hati kita dan mengetahui segala sesuatu.” (1 Yohanes 3:19, 20) Mari kita bahas empat cara Tulisan-Tulisan Kudus membantu kita ”memberikan keyakinan kepada hati kita” akan kasih Yehuwa.

Yehuwa Menghargai Saudara

Dua burung pipit mungil
”Kamu lebih bernilai daripada banyak burung pipit”

4 Pertama, Alkitab secara langsung mengajarkan bahwa Allah memandang berharga setiap hamba-Nya. Sebagai contoh, Yesus berkata, ”Bukankah dua ekor burung pipit dijual seharga sebuah uang logam bernilai kecil? Akan tetapi, tidak satu pun dari burung-burung itu akan jatuh ke tanah tanpa diketahui Bapakmu. Namun bahkan rambut kepalamu semuanya terhitung. Karena itu jangan takut: kamu lebih bernilai daripada banyak burung pipit.” (Matius 10:29-31) Perhatikan apa makna kata-kata tersebut bagi para pendengar Yesus pada abad pertama.

5 Kita mungkin bertanya-tanya mengapa orang-orang pada waktu itu membeli burung pipit. Nah, pada zaman Yesus, pipit adalah burung termurah yang dijual sebagai bahan makanan. Perhatikan bahwa dengan satu uang logam bernilai kecil, seorang pembeli mendapat dua burung pipit. Tetapi, Yesus belakangan mengatakan bahwa jika seseorang siap membelanjakan dua uang logam, ia mendapat, tidak hanya empat, tetapi lima ekor. Burung ekstra ditambahkan seolah-olah tidak bernilai sama sekali. Mungkin, makhluk-makhluk tersebut tidak berharga di mata manusia, tetapi bagaimana pandangan sang Pencipta? Kata Yesus, ”Tidak seekor pun dari antaranya [bahkan seekor yang ditambahkan] dilupakan di hadapan Allah.” (Lukas 12:6, 7) Sekarang, kita mulai mengerti apa yang Yesus maksudkan. Jika seekor burung pipit saja sangat Yehuwa hargai, betapa terlebih berharga lagi seorang manusia! Seperti yang Yesus jelaskan, Yehuwa mengetahui setiap perincian mengenai diri kita. Ya, bahkan rambut di kepala kita terhitung oleh-Nya!

6 Rambut kita terhitung? Mungkin, ada yang beranggapan bahwa Yesus tidak realistis dalam hal ini. Namun, coba pikirkan tentang harapan kebangkitan. Yehuwa pasti harus sangat mengenal kita agar dapat menciptakan kita kembali! Ia begitu menghargai kita sehingga Ia mengingat setiap perincian, termasuk kode genetis kita serta semua kenangan dan pengalaman kita selama bertahun-tahun.* Jika dibandingkan dengan hal itu, menghitung rambut kita—yang rata-rata tumbuh sebanyak 100.000 helai pada tiap kepala—merupakan soal sepele.

Apa yang Yehuwa Lihat dalam Diri Kita?

7 Kedua, Alkitab mengajar kita tentang apa yang Yehuwa hargai dalam diri hamba-hamba-Nya. Sederhana saja, Ia menyukai sifat-sifat baik kita dan upaya-upaya yang kita kerahkan. Raja Daud memberi tahu Salomo, Putranya, ”Yehuwa menyelidiki segala hati dan memahami setiap kecenderungan pikiran.” (1 Tawarikh 28:9) Seraya Allah menyelidiki miliaran hati manusia dalam dunia yang penuh kekerasan dan kebencian ini, alangkah senangnya Ia apabila menemukan hati yang mengasihi perdamaian, kebenaran, dan keadilbenaran! Apa yang terjadi jika Allah menemukan hati yang sarat dengan kasih kepada-Nya, yang berupaya belajar tentang-Nya dan membagikan pengetahuan demikian kepada orang lain? Yehuwa memberi tahu kita bahwa Ia memperhatikan mereka yang memperkenalkan diri-Nya kepada orang-orang lain. Bahkan, Ia memiliki sebuah ”buku peringatan” bagi semua orang ”yang takut akan Yehuwa dan mereka yang memikirkan namanya”. (Maleakhi 3:16) Sifat-sifat demikian berharga bagi-Nya.

8 Apa beberapa pekerjaan baik yang Yehuwa hargai? Tentu saja, upaya-upaya kita untuk meniru Putra-Nya, Yesus Kristus. (1 Petrus 2:21) Salah satu pekerjaan yang penting yang Allah hargai adalah penyebarluasan kabar baik tentang Kerajaan-Nya. Di Roma 10:15, kita membaca, ”Betapa indah kaki orang yang menyatakan kabar baik tentang hal-hal yang baik!” Secara wajar, kita mungkin tidak berpikir bahwa kaki kita yang biasa-biasa saja ini ”indah”. Tetapi, kaki di sini menggambarkan upaya hamba-hamba Yehuwa dalam memberitakan kabar baik. Semua upaya demikian kelihatan indah dan berharga di mata-Nya.—Matius 24:14; 28:19, 20.

9 Yehuwa juga menghargai ketekunan kita. (Matius 24:13) Ingatlah, Setan ingin Saudara berpaling dari Yehuwa. Hari yang Saudara jalani dengan tetap loyal kepada Yehuwa merupakan hari ketika Saudara membantu memberikan jawaban kepada celaan Setan. (Amsal 27:11) Kadang-kadang, ketekunan bukanlah hal yang mudah. Problem kesehatan, kesulitan keuangan, tekanan emosi, dan kendala-kendala lain bisa membuat setiap hari menjadi cobaan. Penantian yang ditangguhkan juga terbukti dapat mengecilkan hati. (Amsal 13:12) Ketekunan dalam menghadapi berbagai tantangan seperti itu bahkan lebih berharga lagi bagi Yehuwa. Itulah sebabnya, Raja Daud meminta Yehuwa untuk menyimpan air matanya dalam sebuah ’kirbat’, dan dengan yakin menambahkan, ”Bukankah semuanya itu ada dalam bukumu?” (Mazmur 56:8) Ya, Yehuwa menyimpan dan mengingat semua air mata dan penderitaan kita seraya kita mempertahankan keloyalan kepada-Nya. Air mata dan penderitaan itu juga berharga di mata-Nya.

10 Nah sekarang, hati yang suka mempersalahkan diri mungkin menolak bukti bahwa kita berharga di mata Allah. Hati kita mungkin tak henti-hentinya membisiki kita, ’Tetapi ada begitu banyak orang lain yang lebih patut diteladani daripada saya. Yehuwa pasti sangat kecewa apabila Ia membandingkan saya dengan mereka!’ Yehuwa tidak suka membanding-bandingkan; cara berpikir-Nya juga tidak kaku atau keras. (Galatia 6:4) Ia membaca hati kita dengan saksama dan menghargai hal-hal baik yang ada di dalamnya—bahkan dalam kadar yang kecil.

Yehuwa Memisahkan yang Baik dari yang Jahat

11 Ketiga, seraya Yehuwa menyelidiki kita, Ia dengan teliti mencari dan memisahkan hal-hal yang baik. Misalnya, sewaktu menyatakan bahwa seluruh dinasti Raja Yeroboam yang murtad harus dieksekusi, Yehuwa memerintahkan agar salah satu putra raja, Abiya, dikuburkan dengan layak. Mengapa? ”Sesuatu yang baik terhadap Yehuwa, Allah Israel, telah didapati pada dirinya.” (1 Raja 14:1, 10-13) Yehuwa seolah-olah mengayak hati pria muda tersebut dan menemukan ”sesuatu yang baik” di sana. Betapa pun kecilnya atau tidak berartinya kebaikan yang Ia temukan, Yehuwa menganggapnya berharga untuk dicatat dalam Firman-Nya. Bahkan, Ia mengupahinya, memperlihatkan belas kasihan yang sepatutnya kepada salah seorang anggota keluarga murtad tersebut.

12 Contoh yang bahkan lebih menonjol lagi adalah sehubungan dengan Raja Yehosyafat yang baik. Sewaktu sang raja melakukan suatu tindakan yang bodoh, seorang nabi Yehuwa memberi tahu dia, ”Karena hal itu, Yehuwa marah terhadap engkau.” Benar-benar serius! Tetapi, pesan Yehuwa tidak berhenti sampai di situ saja. Pesannya berlanjut, ”Meskipun demikian, ada hal-hal baik yang didapati pada dirimu.” (2 Tawarikh 19:1-3) Jadi, kemarahan Yehuwa yang adil-benar tidak membutakan Dia terhadap hal-hal baik yang ada dalam diri Yehosyafat. Betapa berbedanya dengan manusia yang tak sempurna! Apabila kesal kepada orang lain, kita cenderung menjadi buta terhadap hal-hal baik yang ada dalam diri mereka. Dan, ketika kita berbuat dosa, perasaan kecewa, malu, dan bersalah membutakan kita terhadap hal-hal baik yang ada dalam diri kita. Namun, ingatlah bahwa jika kita bertobat dari dosa-dosa kita dan berjuang keras untuk tidak mengulanginya, Yehuwa mengampuni kita.

13 Seraya Yehuwa menyelidiki Saudara, Ia membuang dosa-dosa tersebut, sangat mirip dengan cara seorang pendulang emas membuang kerikil-kerikil yang tidak berharga. Bagaimana dengan sifat dan perbuatan baik Saudara? Ya, itu semua adalah ”butir-butir” yang Ia simpan! Pernahkah Saudara memperhatikan bagaimana orang tua yang pengasih menyimpan gambar-gambar atau tugas-tugas sekolah anak-anaknya, kadang-kadang sampai puluhan tahun setelah anak-anak mereka melupakannya? Yehuwa adalah Orang Tua yang paling pengasih. Selama kita tetap setia kepada-Nya, Ia tidak pernah melupakan perbuatan dan sifat baik kita. Malah, melupakan hal-hal itu Ia pandang sebagai sesuatu yang tidak adil-benar, dan Ia tidak pernah tidak adil-benar. (Ibrani 6:10) Ia juga menyelidiki kita dengan cara lain.

14 Yehuwa melihat apa yang ada di balik ketidaksempurnaan kita dan mengamati potensi diri kita. Sebagai ilustrasi: Para pencinta karya seni akan melakukan apa saja untuk memperbaiki lukisan atau karya seni lain yang rusak berat. Misalnya, sewaktu seseorang dengan senapan merusak gambar karya Leonardo da Vinci senilai kira-kira 30 juta dolar AS di National Gallery London, Inggris, tidak seorang pun mengusulkan untuk membuang gambar yang sudah rusak tersebut. Pekerjaan untuk memperbaiki mahakarya yang sudah berusia hampir 500 tahun itu segera dimulai. Mengapa? Karena gambar itu sangat berharga di mata para pencinta seni. Tidakkah Saudara lebih berharga daripada sebuah gambar yang dibuat dengan kapur dan arang? Di mata Allah tentu Saudara lebih berharga—tidak soal seberapa rusaknya Saudara karena mewarisi ketidaksempurnaan. (Mazmur 72:12-14) Allah Yehuwa, sang Pencipta ahli keluarga manusia, akan melakukan perbaikan apa pun yang dibutuhkan agar semua orang yang menyambut pemeliharaan-Nya yang pengasih dapat dipulihkan kepada kesempurnaan.—Kisah 3:21; Roma 8:20-22.

15 Ya, Yehuwa melihat hal baik yang mungkin tidak kita lihat dalam diri kita. Dan, seraya kita melayani-Nya, Ia akan membuat hal yang baik itu berkembang hingga akhirnya kita menjadi sempurna. Tidak soal bagaimana dunia Setan telah memperlakukan kita, Yehuwa memandang hamba-hamba-Nya yang setia sebagai orang-orang yang berharga.—Hagai 2:7.

Yehuwa dengan Aktif Mempertunjukkan Kasih-Nya

16 Keempat, Yehuwa melakukan banyak hal untuk membuktikan kasih-Nya kepada kita. Tentu saja, korban tebusan Kristus merupakan jawaban yang paling ampuh terhadap dusta Setan bahwa kita tidak berharga atau tidak dapat dikasihi. Jangan pernah lupa bahwa kematian yang penuh penderitaan yang Yesus alami di tiang siksaan dan bahkan penderitaan yang lebih besar yang Yehuwa alami seraya menyaksikan Putra yang Ia kasihi meninggal, adalah bukti kasih Mereka kepada kita. Sayang sekali, banyak orang sulit percaya bahwa pemberian itu dapat diperuntukkan bagi mereka secara pribadi. Mereka merasa tidak layak. Namun, ingatlah bahwa rasul Paulus pernah menjadi penganiaya para pengikut Kristus. Meski begitu, ia menulis, ”Putra Allah, . . . mengasihi aku dan menyerahkan dirinya bagiku.”Galatia 1:13; 2:20.

17 Yehuwa membuktikan kasih-Nya kepada kita dengan membantu kita secara pribadi agar dapat menikmati manfaat-manfaat korban Kristus. Yesus berkata, ”Tidak seorang pun dapat datang kepadaku jika Bapak, yang mengutus aku, tidak menariknya.” (Yohanes 6:44) Ya, secara pribadi Yehuwa menarik kita kepada Putra-Nya dan kepada harapan hidup kekal. Bagaimana? Melalui pekerjaan pengabaran yang menjangkau kita secara perorangan, dan melalui roh kudus-Nya, yang Yehuwa gunakan untuk membantu kita memahami dan menerapkan kebenaran-kebenaran rohani meskipun adanya keterbatasan dan ketidaksempurnaan kita. Dengan demikian, Yehuwa dapat berkata mengenai kita seperti Ia berkata mengenai Israel, ”Aku mengasihi engkau dengan kasih yang ada sampai waktu yang tidak tertentu. Itulah sebabnya aku menarikmu dengan kebaikan hati yang penuh kasih.”—Yeremia 31:3.

18 Barangkali, melalui hak istimewa doalah kita merasakan kasih Yehuwa dengan cara yang paling intim. Alkitab mengundang kita semua untuk ’berdoa dengan tiada henti’ kepada Allah. (1 Tesalonika 5:17) Ia mendengarkan. Ia bahkan disebut sebagai ”Pendengar doa”. (Mazmur 65:2) Ia tidak mendelegasikan jabatan ini kepada pribadi lain mana pun, bahkan tidak kepada Putra-Nya sendiri. Coba bayangkan: Sang Pencipta alam semesta mendesak kita untuk mendekati-Nya dalam doa, dengan kebebasan berbicara. Dan, pendengar macam apakah Ia? Dingin, masa bodoh, tidak peduli? Sama sekali tidak.

19 Yehuwa berempati. Apakah empati itu? Seorang Kristen lanjut usia yang setia berkata, ”Empati adalah kepedihan-mu di hati-ku.” Apakah Yehuwa benar-benar terpengaruh oleh kepedihan kita? Sehubungan dengan penderitaan umat-Nya, Israel, kita membaca, ”Selama kesesakan mereka, hal itu menyesakkan baginya.” (Yesaya 63:9) Yehuwa tidak sekadar melihat kesusahan mereka; Ia menyelami perasaan bangsa itu. Seberapa dalam perasaan-Nya diilustrasikan oleh kata-kata Yehuwa sendiri kepada hamba-hamba-Nya, ”Ia yang menjamah kamu berarti menjamah bola mataku.”* (Zakharia 2:8) Pastilah sangat menyakitkan! Ya, Yehuwa merasakan apa yang kita rasakan. Jika kita terluka, Ia juga terluka.

20 Tak satu pun orang Kristen yang seimbang yang akan menggunakan bukti kasih dan penghargaan Allah tersebut sebagai dalih untuk menjadi sombong atau menganggap diri penting. Rasul Paulus menulis, ”Melalui kebaikan hati yang tidak selayaknya diperoleh, yang diberikan kepadaku, aku memberi tahu setiap orang di antara kamu agar tidak berpikir bahwa dirinya lebih tinggi daripada yang semestinya; tetapi hendaklah ia berpikir dengan tujuan memiliki pikiran yang sehat, masing-masing sesuai dengan kadar iman yang telah Allah bagikan kepadanya.” (Roma 12:3) Terjemahan lain untuk ayat ini berbunyi, ”Saya menasihati Saudara-saudara semuanya: Janganlah merasa diri lebih tinggi dari yang sebenarnya. Hendaklah kalian menilai keadaan dirimu dengan rendah hati.” (Bahasa Indonesia Sehari-hari) Jadi, seraya kita merasakan sepenuhnya kehangatan kasih Bapak surgawi kita, marilah kita berpikiran sehat dan mengingat bahwa kita sebenarnya tidak berhak ataupun layak memperoleh kasih Allah.—Lukas 17:10.

21 Marilah kita semua mengerahkan segenap kekuatan kita untuk menampik semua dusta Setan, termasuk dusta bahwa kita tidak berharga atau tidak dapat dikasihi. Seandainya pengalaman hidup telah mengajar Saudara untuk memandang diri Saudara sebagai penghalang yang terlalu sulit untuk diatasi bahkan oleh kasih Allah yang sangat besar, atau perbuatan baik Saudara terlalu kecil untuk diperhatikan bahkan oleh mata-Nya yang mahamelihat, atau dosa Saudara terlalu besar untuk ditutupi bahkan oleh kematian Putra-Nya yang berharga, dustalah yang telah diajarkan kepada Saudara. Tampiklah semua dusta itu dengan segenap hati Saudara! Marilah kita terus-menerus meyakinkan hati kita akan kebenaran yang dinyatakan dalam kata-kata Paulus yang terilham ini, ”Aku yakin bahwa baik kematian atau kehidupan atau malaikat-malaikat atau pemerintah-pemerintah atau perkara-perkara yang ada sekarang atau perkara-perkara yang akan datang atau kuasa-kuasa atau ketinggian atau kedalaman atau apa pun yang diciptakan, tidak ada yang akan sanggup memisahkan kita dari kasih Allah yang ada dalam Kristus Yesus, Tuan kita.”—Roma 8:38, 39.

[Catatan Kaki]

Alkitab berulang kali menghubungkan harapan kebangkitan dengan ingatan Yehuwa. Ayub, pria yang setia, berkata kepada Yehuwa, ”Oh, . . . sekiranya engkau menetapkan suatu batas waktu bagiku dan mengingat aku!” (Ayub 14:13) Yesus berbicara tentang kebangkitan ”semua orang yang di dalam makam peringatan”. Hal itu tepat karena Yehuwa mengingat dengan sempurna orang-orang mati yang ingin Ia bangkitkan.—Yohanes 5:28, 29.

Beberapa terjemahan ayat ini menyiratkan bahwa yang menjamah umat Allah sebenarnya menjamah matanya sendiri atau mata Israel, bukan mata Allah. Kesalahan tersebut dibuat oleh beberapa penulis yang menganggap ayat ini tidak sopan dan, oleh karena itu, mereka mengubahnya. Upaya mereka yang salah arah ini mengaburkan intensitas empati pribadi Yehuwa.

Pertanyaan untuk Direnungkan

Mazmur 139:1-24 Bagaimana kata-kata Raja Daud yang terilham menunjukkan bahwa Yehuwa sangat berminat kepada kita secara perorangan?

Yesaya 43:3, 4, 10-13 Bagaimana perasaan Yehuwa terhadap mereka yang melayani sebagai Saksi-Saksi-Nya, dan bagaimana perasaan-Nya dinyatakan dalam tindakan?

Roma 5:6-8 Mengapa kita dapat yakin bahwa keadaan kita yang berdosa tidak menghalangi kasih Yehuwa untuk mencapai dan memberi manfaat kepada kita?

Yudas 17-25 Bagaimana kita dapat tetap berada dalam kasih Allah, dan pengaruh apa saja yang menghalangi kita untuk melakukannya?

[Pertanyaan Pelajaran]

 1. Perasaan negatif apa yang menyusahkan banyak orang, termasuk beberapa orang Kristen sejati?

2, 3. Siapa yang menginginkan kita untuk percaya bahwa di mata Yehuwa kita tidak berharga atau tidak dapat dikasihi, dan bagaimana kita dapat memerangi gagasan itu?

4, 5. Bagaimana perumpamaan Yesus tentang burung pipit menunjukkan bahwa kita bernilai di mata Yehuwa?

 6. Mengapa kita yakin bahwa Yesus bersikap realistis sewaktu berbicara soal terhitungnya rambut kepala kita?

7, 8. (a) Apa beberapa sifat yang Yehuwa ingin temukan seraya Ia menyelidiki hati manusia? (b) Apa beberapa pekerjaan yang kita lakukan yang Yehuwa hargai?

9, 10. (a) Mengapa kita dapat yakin bahwa Yehuwa menghargai ketekunan kita dalam menghadapi berbagai kesukaran? (b) Yehuwa tidak pernah memiliki pandangan negatif apa terhadap hamba-hamba-Nya yang setia?

11. Apa yang dapat kita pelajari tentang Yehuwa dari cara Ia menangani kasus Abiya?

12, 13. (a) Bagaimana kasus Raja Yehosyafat menunjukkan bahwa Yehuwa mencari hal-hal baik yang ada dalam diri kita bahkan ketika kita berbuat dosa? (b) Sehubungan dengan perbuatan dan sifat baik kita, bagaimana Yehuwa bertindak sebagai Orang Tua yang pengasih?

14, 15. (a) Mengapa ketidaksempurnaan kita tidak pernah membutakan Yehuwa terhadap hal baik yang ada dalam diri kita? Ilustrasikan. (b) Apa yang akan Yehuwa lakukan dengan hal baik yang Ia temukan dalam diri kita, dan bagaimana Ia memandang umat-Nya yang setia?

16. Apa bukti terbesar kasih Yehuwa kepada kita, dan bagaimana kita tahu bahwa pemberian itu bermanfaat bagi kita secara pribadi?

17. Dengan sarana apa Yehuwa menarik kita kepada diri-Nya dan kepada Putra-Nya?

18, 19. (a) Cara yang paling intim apa yang Yehuwa gunakan untuk mempertunjukkan kasih-Nya kepada kita, dan apa yang menunjukkan bahwa Ia secara pribadi sangat peduli akan hal itu? (b) Bagaimana Firman Allah meyakinkan kita bahwa Yehuwa adalah pendengar yang berempati?

20. Pemikiran yang tidak seimbang apa yang harus kita hindari jika kita ingin menaati nasihat yang terdapat di Roma 12:3?

21. Apa saja dusta Setan yang harus terus-menerus kita lawan, dan dengan kebenaran ilahi mana kita dapat terus meyakinkan hati kita?

[Gambar di hlm. 243]

Yehuwa menghargai ketekunan kita dalam menghadapi pencobaan

[Gambar di hlm. 245]

”Kamu lebih bernilai daripada banyak burung pipit”