Kamis, 26 Mei
Harapan ini . . . , kuat dan bisa diandalkan.—Ibr. 6:19.
Harapan yang Yehuwa berikan itu ”bagaikan jangkar bagi jiwa”. Maksudnya, itu bisa membantu kita tetap tenang meskipun kita menghadapi masalah atau merasa khawatir. Pikirkanlah tentang masa depan yang Yehuwa janjikan. Pada saat itu, tidak ada lagi hal-hal yang membuat Saudara merasa khawatir. (Yes. 65:17) Bayangkan diri Saudara berada dalam dunia baru yang damai, yang bebas dari hal-hal buruk. (Mi. 4:4) Saudara juga bisa memperkuat keyakinan Saudara akan harapan di masa depan kalau Saudara menceritakannya kepada orang-orang lain. Jadi, berupayalah sebisa-bisanya untuk mengabar dan membuat murid. Kalau Saudara melakukan itu, Saudara akan ”yakin sepenuhnya pada harapan” Saudara sampai akhir. (Ibr. 6:11) Karena dunia ini sudah hampir berakhir, kita akan mengalami semakin banyak masalah yang bisa membuat kita khawatir. Kita bisa menghadapi masalah-masalah itu dengan tenang karena kita mengandalkan Yehuwa, bukan diri sendiri. Mari kita tunjukkan melalui tindakan kita bahwa kita beriman pada janji Yehuwa ini: ”Jika kalian terus percaya dan tidak resah, kalian akan kuat.”—Yes. 30:15. w21.01 1:17-18
Jumat, 27 Mei
Yehuwa itu penuh kasih sayang.—Yak. 5:11.
Yakobus 5:11 menyebutkan kasih sayang Yehuwa bersama dengan sifat-Nya yang lain, yaitu belas kasihan. Sifat ini juga membuat kita ingin bersahabat dengan Yehuwa. (Kel. 34:6) Salah satu cara Yehuwa menunjukkan belas kasihan adalah dengan mengampuni kesalahan kita. (Mz. 51:1) Tapi di dalam Alkitab, menunjukkan belas kasihan bukan hanya berarti mengampuni orang lain. Belas kasihan adalah perasaan yang kuat, yang muncul dalam diri seseorang sewaktu melihat orang lain menderita. Perasaan itu menggerakkan dia untuk membantu orang tersebut. Itulah yang Yehuwa rasakan terhadap kita. Dia mengatakan bahwa perasaan-Nya itu bahkan lebih kuat daripada perasaan seorang ibu terhadap anaknya. (Yes. 49:15) Karena Yehuwa berbelaskasihan kepada kita, Dia tergerak untuk membantu kita saat kita menghadapi kesulitan. (Mz. 37:39; 1 Kor. 10:13) Bagaimana kita bisa menunjukkan belas kasihan? Kalau ada saudara-saudari yang menyakiti hati kita, kita perlu memaafkan kesalahan mereka dan tidak terus merasa kesal. (Ef. 4:32) Tapi, ada hal penting lain yang perlu kita lakukan. Kita perlu membantu saudara-saudari kita yang menghadapi kesulitan. Dengan begitu, kita meniru Yehuwa, yang adalah teladan utama dalam menunjukkan kasih sayang.—Ef. 5:1. w21.01 4:5
Sabtu, 28 Mei
Kristus menjadi teladan supaya kalian mengikuti jejaknya dengan saksama.—1 Ptr. 2:21.
Seorang kepala keluarga harus memenuhi kebutuhan jasmani keluarganya. Tapi, dia harus berhati-hati agar tidak terlalu sibuk bekerja. Kalau dia terlalu sibuk bekerja, dia bisa melalaikan tanggung jawabnya untuk memenuhi kebutuhan rohani dan emosi keluarganya dan mengajar keluarganya dengan pengasih. Yehuwa mengajar dan mengoreksi kita demi kebaikan kita. (Ibr. 12:7-9) Seperti Bapaknya, Yesus juga mengajar orang-orang yang berada di bawah wewenangnya dengan pengasih. (Yoh. 15:14, 15) Dia menasihati mereka dengan tegas tapi baik hati. (Mat. 20:24-28) Dia memahami bahwa kita tidak sempurna dan sering melakukan kesalahan. (Mat. 26:41) Kalau seorang kepala keluarga meniru Yehuwa dan Yesus, dia akan selalu ingat bahwa istri dan anak-anaknya tidak sempurna. Kalau mereka berbuat salah, dia tidak akan memarahi mereka dengan kasar. (Kol. 3:19, ctk.) Sebaliknya, sesuai dengan prinsip di Galatia 6:1, dia akan mengoreksi mereka ”dengan lembut” dan terus mengingat bahwa dia sendiri tidak sempurna. Seperti Yesus, dia tahu bahwa cara terbaik untuk mengajar adalah dengan memberikan teladan. w21.02 5:16-18