Jumat, 23 Januari
Kalau memberi sedekah, jangan meniup trompet sebelumnya.—Mat. 6:2.
Setelah Yesus kembali ke surga, Rasul Petrus secara mukjizat menyembuhkan seorang pria yang lumpuh sejak lahir. (Kis. 1:8, 9; 3:2, 6-8) Peristiwa ini pasti menarik perhatian banyak orang. (Kis. 3:11) Nah, Petrus dibesarkan dalam lingkungan yang sangat mementingkan kehormatan dan kedudukan. Jadi, apakah dia senang dengan semua perhatian itu? Tidak. Dia dengan rendah hati menyuruh orang-orang memuji Yehuwa dan Yesus. Dia berkata, ”Dengan nama Yesus, dan karena kami beriman pada namanya, orang yang kalian lihat dan kenal ini menjadi kuat.” (Kis. 3:12-16) Kita bisa meniru teladan Petrus yang berupaya untuk rendah hati. Kita melayani Yehuwa dan membantu orang lain bukan karena mau dipuji, tapi karena kita menyayangi Yehuwa dan sesama. Upaya kita untuk melakukan itu mungkin tidak selalu dilihat orang. Tapi, kalau kita tetap melakukannya dengan rela, itu menunjukkan bahwa kita rendah hati.—Mat. 6:1-4. w25.03 10:11-12
Sabtu, 24 Januari
Teruslah perhatikan dirimu dan pengajaranmu.—1 Tim. 4:16.
Bagaimana kita bisa lebih bersemangat untuk mengabar? Kita bisa ingat bahwa dengan mengabar, kita menunjukkan kasih kita kepada Yehuwa dan sesama. (Mat. 22:37-39) Coba bayangkan: Yehuwa pasti senang sewaktu melihat kita mengabar, dan orang-orang pasti akan lebih bahagia sewaktu mereka mulai belajar Alkitab. Selain itu, mereka yang mendengarkan berita kita akan diselamatkan. (Yoh. 6:40) Apakah Saudara tidak bisa keluar rumah karena alasan tertentu? Kalau ya, berfokuslah pada apa yang bisa Saudara lakukan untuk menunjukkan kasih kepada Yehuwa dan sesama. Selama pandemi COVID-19, Samuel dan Dania tidak bisa keluar rumah. Di masa yang sulit itu, mereka secara rutin melakukan kesaksian lewat telepon, menulis surat, dan memandu pelajaran Alkitab lewat Zoom. Meskipun keadaan Samuel dan Dania terbatas, mereka tetap melakukan apa yang bisa mereka lakukan, dan mereka pun bersukacita. w24.04 16:15-16
Minggu, 25 Januari
Siapa yang bisa mendapatkan istri yang baik? Nilainya jauh lebih berharga daripada koral.—Ams. 31:10.
Meskipun kita tidak harus menikah untuk bisa bahagia, banyak orang Kristen, baik yang masih muda maupun yang lebih berumur, ingin memiliki pasangan hidup. Tentu saja, sebelum mulai berpacaran, kalian harus sudah siap secara rohani, emosi, dan materi untuk menjalankan peran kalian dalam perkawinan. (1 Kor. 7:36) Kalian juga perlu tahu apa saja yang kalian inginkan dari teman hidup. Kalau tidak, kalian mungkin akan melewatkan orang yang sebenarnya cocok dengan kalian, atau malah berpacaran dengan orang yang sebenarnya tidak cocok. Tentu saja, orang yang kalian pertimbangkan haruslah orang Kristen yang terbaptis. (1 Kor. 7:39) Tapi, tidak semua orang yang sudah dibaptis akan menjadi teman hidup yang baik untuk kalian. Jadi, coba pikirkan: ’Apa saja cita-cita saya? Sifat-sifat apa yang saya inginkan dari teman hidup saya? Apakah keinginan saya itu masuk akal?’ w24.05 21:1, 3