PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • w26 Juli hlm. 2-7
  • Belajar dari Kisah Orang Gibeon

Tidak ada video untuk bagian ini.

Maaf, terjadi error saat ingin menampilkan video.

  • Belajar dari Kisah Orang Gibeon
  • Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa (Edisi Pelajaran)—2026
  • Subjudul
  • Bahan Terkait
  • BERIMAN DAN RENDAH HATI
  • MENUNGGU YEHUWA MENGATASI KETIDAKADILAN
  • SETIA MENDUKUNG IBADAH SEJATI
  • Orang-Orang Gibeon yang Bijaksana
    Buku Cerita Alkitab
  • Pelajaran dari Kisah Orang Gibeon
    Pelayanan dan Kehidupan Kristen—Lembar Pelajaran—2021
  • Yosua dan Orang Gibeon
    Belajarlah dari Cerita-Cerita di Alkitab
  • Gibeon
    Pemahaman Alkitab, Jilid 1
Lihat Lebih Banyak
Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa (Edisi Pelajaran)—2026
w26 Juli hlm. 2-7

7-13 SEPTEMBER 2026

NYANYIAN 88 Ajar Aku Segala Jalan-Mu

Belajar dari Kisah Orang Gibeon

”Penduduk Gibeon telah berdamai dengan Israel dan tinggal bersama mereka.”—YOS. 10:1.

INTI

Pelajaran dari teladan orang Gibeon dan cara Yehuwa memperlakukan mereka.

1-2. Kenapa kita perlu mempelajari kisah orang Gibeon di Alkitab?

WAKTU itu tahun 1473 SM. Bangsa Israel baru saja mulai menaklukkan Negeri Perjanjian. Mereka sudah berhasil mengalahkan kota Yerikho dan Ai. Tapi kemudian, terjadi sesuatu yang tidak terduga. Sekelompok orang yang mengaku berasal dari negeri yang jauh datang untuk membuat perjanjian damai dengan umat Allah.

2 Mereka adalah orang Gibeon. Ini pertama kalinya orang Gibeon disebutkan dalam Alkitab. Beberapa kisah Alkitab menunjukkan bahwa orang Gibeon tinggal bersama orang Israel selama ratusan tahun. Dengan membahas kisah orang Gibeon, kita bisa belajar banyak dari teladan mereka dan dari cara Yehuwa memperlakukan mereka.

BERIMAN DAN RENDAH HATI

3. (a) Siapa orang Gibeon itu? (b) Kenapa mereka mau membuat perjanjian damai dengan Israel?

3 Waktu orang Israel mulai menaklukkan negeri Kanaan, orang Gibeon tinggal di kota Gibeon yang berbenteng. Mereka adalah bagian dari bangsa Hewi, salah satu dari tujuh bangsa Kanaan yang penduduknya ”lebih banyak dan lebih kuat” daripada Israel. (Ul. 7:1) Jadi, orang Gibeon sebenarnya kuat secara militer. (Yos. 10:2) Tapi, tidak seperti orang Kanaan lainnya, mereka sadar bahwa mereka tidak bisa menang melawan Israel. Mereka tahu bahwa Yehuwa berperang bagi umat-Nya dan sudah berjanji untuk mengusir orang Kanaan. (Kel. 34:11; Yos. 9:24) Setelah orang Israel mengalahkan Yerikho dan Ai, orang Gibeon mengutus sekelompok oranga kepada Yosua di Gilgal untuk membuat perjanjian damai.

4. (a) Bagaimana orang Gibeon meyakinkan orang Israel untuk membuat perjanjian damai dengan mereka? (Yosua 9:​8-13; lihat juga gambar.) (b) Apa yang terjadi waktu orang Gibeon ketahuan berbohong?

4 Baca Yosua 9:​8-13. Orang Gibeon berpura-pura datang dari negeri yang jauh. Mereka berkata bahwa mereka mendengar bagaimana Yehuwa menghancurkan pasukan Mesir dan membantu Israel mengalahkan raja-raja orang Amori, yaitu Sihon dan Og. Tapi, mereka sengaja tidak menyebutkan apa yang terjadi dengan Yerikho dan Ai, karena seandainya mereka datang dari ”negeri yang sangat jauh”, seharusnya mereka belum mendengar hal itu. Lalu, setelah melihat bukti yang ditunjukkan orang Gibeon, para pemimpin Israel percaya dan membuat perjanjian damai dengan mereka, tanpa bertanya dulu kepada Yehuwa. (Yos. 9:​14, 15) Tidak lama kemudian, orang Israel sadar bahwa mereka sudah tertipu. Tapi, karena mereka sudah ’bersumpah demi Yehuwa’, mereka tetap memegang perjanjian mereka dengan orang Gibeon. (Yos. 9:​16-19) Sejak itu, orang Gibeon diberi tugas rendahan, yaitu ”mengumpulkan kayu dan menimba air bagi jemaat itu dan bagi mezbah Yehuwa”.—Yos. 9:27.

Sekelompok orang Gibeon berlutut dan memohon kepada Yosua dan para prajurit Israel, sambil menunjukkan pakaian dan kantong kulit mereka yang sudah usang.

Orang Gibeon menipu Yosua sehingga dia membuat perjanjian damai dengan mereka (Lihat paragraf 4)


5. Bagaimana orang Gibeon menunjukkan bahwa mereka beriman kepada Yehuwa?

5 Lima raja orang Amori mendengar bahwa orang Gibeon sudah berdamai dengan Israel. Jadi, mereka bersatu untuk menyerang Gibeon. Orang Gibeon pun meminta tolong kepada Yosua. (Yos. 10:​3-7) Lalu, Yosua memimpin pasukan Israel untuk menyelamatkan Gibeon, dan mereka berhasil dengan bantuan Yehuwa. Waktu itu, Yehuwa bahkan menghujani pasukan Amori dengan batu-batu besar dan membuat matahari terus bersinar sampai perang itu berakhir. (Yos. 10:​9-14) Dengan berupaya membuat perjanjian damai dan meminta bantuan Yosua, orang Gibeon menunjukkan bahwa mereka beriman kepada Yehuwa. Mereka yakin Dia akan menyelamatkan mereka dan menepati janji-Nya untuk memberikan negeri Kanaan kepada orang Israel.

6. Dari kisah ini, apa yang kita pelajari tentang Yehuwa?

6 Dari kisah ini, apa yang kita pelajari tentang Yehuwa? Yehuwa itu rendah hati dan berbelaskasihan. Sebenarnya, Dia sudah menyuruh Israel melenyapkan seluruh penduduk Kanaan, termasuk orang Gibeon. (Ul. 9:3) Tapi, karena Israel membuat perjanjian damai dengan Gibeon, Yehuwa membiarkan orang Gibeon tetap hidup. Padahal, orang Israel tidak bertanya dulu kepada-Nya sebelum membuat perjanjian itu. Yehuwa juga membantu orang Israel memegang perjanjian mereka, dan Dia menyelamatkan Gibeon secara mukjizat.—Yos. 9:26; 11:19.

7. Bagaimana kita bisa meniru iman dan kerendahan hati orang Gibeon? (Lihat juga gambar.)

7 Bagaimana kita bisa meniru orang Gibeon? Kita mau beriman sepenuhnya kepada Yehuwa. Dibanding orang Gibeon, kita sekarang tahu lebih banyak tentang Yehuwa. (Mz. 40:​4, 5) Jadi, kita punya lebih banyak alasan untuk percaya penuh kepada Yehuwa. Kita juga bisa meniru orang Gibeon dengan rela melakukan tugas apa pun dalam melayani Yehuwa. (Yos. 9:​23, 27) Saudara muda bernama Luke terkesan waktu melihat seorang saudara, yang tanpa diketahui banyak orang, merelakan diri untuk jaga malam di sebuah proyek Balai Kerajaan. Padahal, saudara itu sudah cukup berumur dan punya tanggung jawab yang besar di Betel. Luke berkata, ”Saya belajar bahwa rendah hati itu bukan cuma perasaan. Itu harus nyata dari apa yang kita lakukan dan tidak kita lakukan.” Seperti orang Gibeon, semoga kita menunjukkan iman kita setiap hari dengan mengandalkan Yehuwa waktu ada kesulitan, dan semoga kita mau melakukan tugas apa pun dalam organisasi Yehuwa dengan rendah hati.

Beberapa gambar: Teladan orang-orang yang rela melakukan tugas rendahan. 1. Seorang pria Gibeon memikul kendi berisi air. 2. Seorang saudara lansia mengurus kebun di halaman Balai Kerajaan.

Tirulah orang Gibeon yang mau melakukan pekerjaan apa pun dengan rendah hati (Lihat paragraf 7)


MENUNGGU YEHUWA MENGATASI KETIDAKADILAN

8. Apa yang Raja Saul lakukan terhadap orang Gibeon?

8 Orang Gibeon disebutkan lagi di Alkitab ratusan tahun kemudian. Raja Saul berupaya melenyapkan mereka dari Israel, ”karena dia terlalu bersemangat untuk orang Israel dan Yehuda”.b Banyak orang Gibeon dibunuh. (2 Sam. 21:​2, 5, 6) Itu benar-benar keterlaluan! Saul melanggar perjanjian damai yang ada sejak dulu antara orang Israel dan orang Gibeon.

9. Kapan ketidakadilan atas orang Gibeon akhirnya ditangani?

9 Ketidakadilan atas orang Gibeon tidak langsung ditangani. Bertahun-tahun kemudian, pada masa pemerintahan Daud, penerus Saul, barulah Yehuwa turun tangan. Yehuwa membiarkan kelaparan terjadi di Israel selama tiga tahun. Waktu Daud menanyakan alasannya, Yehuwa menjawab bahwa Saul dan keluarganya berutang darah karena sudah membunuh banyak orang Gibeon.—2 Sam. 21:1.

10. Menurut 2 Samuel 21:​3-6, apa yang menunjukkan bahwa orang Gibeon menaati hukum Taurat?

10 Baca 2 Samuel 21:​3-6. Daud bertanya kepada orang Gibeon apa yang perlu dilakukan untuk menebus kesalahan Saul. Apakah orang Gibeon memanfaatkan kesempatan ini untuk menjadi kaya? Apakah mereka meminta bayaran karena Daud baru bertindak sekarang? Tidak. Mereka berkata bahwa ”perak dan emas tidak sebanding” dengan kesalahan Saul, karena menurut Taurat, tidak boleh ada uang tebusan untuk seorang pembunuh. (Bil. 35:​30, 31) Mereka juga mengatakan bahwa mereka tidak boleh membunuh siapa pun tanpa perintah raja. Akhirnya, Daud memerintahkan agar tujuh pria keturunan Saul dihukum mati. Kemungkinan, mereka dulu ikut mendukung pembunuhan orang Gibeon. Tidak lama kemudian, hujan pun turun sehingga kelaparan di Israel berakhir. Ini menunjukkan bahwa di mata Yehuwa, ketidakadilan atas orang Gibeon sudah diatasi.—2 Sam. 21:​9, 10, 14.

11. Dari kisah ini, apa yang kita pelajari tentang Yehuwa?

11 Dari kisah ini, apa yang kita pelajari tentang Yehuwa? Yehuwa adalah Allah yang adil. (Mz. 37:28) Dia mau semua orang diperlakukan dengan adil, termasuk orang asing dan kelompok minoritas yang sering diperlakukan dengan buruk. Pada waktu yang tepat, Yehuwa pasti akan menyingkirkan semua ketidakadilan yang dialami hamba-Nya. Kita juga belajar bahwa Yehuwa ingin kita memegang janji kita, sama seperti Dia ingin orang Israel memegang perjanjian damai mereka dengan orang Gibeon.—Bandingkan Amos 1:9.

12. Waktu menghadapi ketidakadilan, bagaimana kita bisa meniru orang Gibeon?

12 Bagaimana kita bisa meniru orang Gibeon? Kalau kita diperlakukan dengan tidak adil oleh rekan seiman kita, kita mau menunggu dengan sabar sampai Yehuwa bertindak. Itu menunjukkan bahwa kita yakin Yehuwa akan menyelesaikan masalahnya pada waktu yang tepat. Perhatikan pengalaman Saudari Laura French. Dia mulai melayani di Betel Kanada pada tahun 1926. Sekitar sepuluh tahun kemudian, dia menjadi korban ketidakadilan. Dia dikeluarkan dari Betel karena dituduh terlibat dengan sekelompok orang murtad. Bagaimana reaksinya? Meskipun sangat sedih, dia tidak pernah mengeluh. Dia terus merintis dengan bersemangat selama empat tahun berikutnya. Pada tahun 1940, tanpa disangka-sangka, dia diundang untuk kembali ke Betel, dan dia sangat senang. Dia terus melayani di Betel sampai dia menyelesaikan kehidupannya di bumi sekitar 50 tahun kemudian. Seperti Saudari French, kita bisa menghadapi ketidakadilan dengan bertekun melakukan apa yang benar dan menunggu Yehuwa menyelesaikan masalahnya pada waktu yang tepat.—Yes. 26:​3, 4.

SETIA MENDUKUNG IBADAH SEJATI

13. Siapa ”kaum Netinim” itu, dan apa yang mereka lakukan setelah penawanan di Babilon?

13 Orang Gibeon disebutkan lagi di Alkitab sekitar 500 tahun setelah zaman Raja Daud. Waktu itu, orang Yahudi sudah dibebaskan setelah ditawan selama 70 tahun di Babilon. Pada tahun 537 SM, sekelompok orang Yahudi kembali ke Yerusalem bersama Gubernur Zerubabel. (Ezr. 2:​1, 2, 58) Dan pada tahun 468 SM, kelompok lainnya kembali bersama Ezra, seorang penyalin. (Ezr. 7:​1-7) Dalam kedua kelompok itu, ada keluarga-keluarga yang disebut ”kaum Netinim”. (Lihat catatan kaki di Ezra 2:58 dan 7:7.) Siapa mereka? Mereka adalah ”para pelayan di bait, yang bukan orang Israel”, dan banyak dari mereka kelihatannya adalah keturunan orang Gibeon.—Lihat Daftar Istilah, ”Netinim”.

14. Apa yang menunjukkan bahwa orang Gibeon setia kepada Yehuwa? (1 Tawarikh 9:2 dan catatan kakinya)

14 Baca 1 Tawarikh 9:2 dan catatan kakinya. Para ”pelayan bait” ada di antara kelompok pertama yang kembali ke Israel. Ini luar biasa, karena tidak semua orang Yahudi di Babilon mau kembali. Banyak orang Yahudi pasti sudah hidup nyaman di Babilon. Mereka tidak mau repot-repot pergi dan membangun kembali kampung halaman mereka yang hancur. Tapi, orang-orang yang setia, termasuk mereka yang kemungkinan adalah keturunan orang Gibeon, ingin memulihkan ibadah sejati di bait di Yerusalem. Jadi, mereka berupaya sebisa-bisanya untuk kembali. Sebenarnya, tidak seperti orang Yahudi, orang Gibeon tidak punya tanah warisan di Israel. Tapi, mereka tetap kembali untuk menjalankan tugas mereka di bait dan bahkan ikut memperbaiki tembok Yerusalem.—Neh. 3:26.

15. Dari kisah ini, apa yang kita pelajari tentang Yehuwa?

15 Dari kisah ini, apa yang kita pelajari tentang Yehuwa? Allah kita sangat menghargai hamba-hamba-Nya yang setia dan selalu menjaga mereka. Ratusan tahun setelah orang Gibeon diselamatkan pada zaman Yosua, Yehuwa masih menjaga dan memberkati mereka. Waktu Yehuda dan Yerusalem dihancurkan pada tahun 607 SM, keturunan orang Gibeon diselamatkan. Dan setelah penawanan di Babilon, mereka masih digunakan untuk mendukung ibadah sejati dengan melayani di bait bersama orang Lewi. Selain itu, sebagian dari mereka kelihatannya tinggal di dekat bait. (Ezr. 2:70; Neh. 11:21) Dan karena bekerja di rumah Allah, mereka tidak perlu membayar pajak apa pun.—Ezr. 7:24.

16. Bagaimana kita bisa meniru orang Gibeon dalam mendukung ibadah sejati?

16 Bagaimana kita bisa meniru orang Gibeon? Kita mau mendukung ibadah sejati sebisa-bisanya. Kita rela membuat pengorbanan untuk melayani Yehuwa, karena kita menyayangi Dia dan mau menyenangkan-Nya. Itulah yang dilakukan Alwin, seorang saudara di Filipina. Dia bekerja di perusahaan minyak, dan penghasilannya besar. Tapi, dia mau meningkatkan pelayanannya. Setiap ada kunjungan pengawas wilayah, Alwin mengambil cuti supaya bisa lebih banyak berdinas di minggu itu, dan dia sangat menikmatinya. Setelah banyak berdoa dan berpikir selama beberapa waktu, Alwin akhirnya berhenti dari pekerjaannya dan mencari pekerjaan lain supaya bisa merintis biasa. Dia tahu bahwa penghasilannya akan berkurang, tapi dia senang karena bisa merintis. Istrinya juga ikut merintis, dan mereka berdua berhasil membantu 21 orang untuk belajar kebenaran dan dibaptis. Yehuwa pasti menghargai upaya mereka. Begitu juga, Yehuwa menghargai semua pengorbanan kita untuk-Nya, dan Dia akan selalu memenuhi kebutuhan kita.—Mat. 6:33.

17. Apa saja yang sudah kita pelajari dari kisah orang Gibeon?

17 Dari kisah orang Gibeon, kita sudah belajar banyak tentang sifat-sifat Yehuwa yang luar biasa. Dia rendah hati, berbelaskasihan, adil, dan setia. Dia selalu memberkati hamba-Nya yang setia. Dan dari teladan orang Gibeon, kita juga belajar banyak hal penting. Misalnya, kita mau beriman sepenuhnya kepada Yehuwa dan mengandalkan Dia waktu ada situasi sulit. Kita mau dengan rendah hati menjalankan tugas apa pun di organisasi. Kita bisa yakin bahwa Yehuwa akan mengatasi semua ketidakadilan, dan kita mau dengan sabar menunggu Dia bertindak. Dan terakhir, kita mau terus mendukung ibadah sejati dengan bersemangat. Semoga kita terus berupaya untuk meniru teladan orang Gibeon.

BAGAIMANA KITA BISA MENIRU ORANG GIBEON . . .

  • yang beriman dan rendah hati?

  • waktu diperlakukan dengan tidak adil?

  • yang setia mendukung ibadah sejati?

NYANYIAN 148 Yehuwa Selamatkan Aku

a Kelihatannya, kelompok ini juga mewakili tiga kota lain milik orang Hewi, yaitu Khefira, Beerot, dan Kiriat-yearim.—Yos. 9:17.

b Alkitab tidak menjelaskan lebih jauh kenapa Saul melakukan kejahatan ini. Menurut beberapa pakar, Saul mungkin tidak mau ada orang asing tinggal di Israel.

    Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2026)
    Log Out
    Log In
    • Indonesia
    • Bagikan
    • Pengaturan
    • Copyright © 2026 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
    • Syarat Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • Pengaturan Privasi
    • JW.ORG
    • Log In
    Bagikan