PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • g80_No1 hlm. 25-26
  • Kawin ’Di Dalam Tuhan Saja’—Apakah Menjadi Masalah?

Tidak ada video untuk bagian ini.

Maaf, terjadi error saat ingin menampilkan video.

  • Kawin ’Di Dalam Tuhan Saja’—Apakah Menjadi Masalah?
  • Sedarlah!—1980 (No. 1)
  • Subjudul
  • Memperoleh Pandangan yang Benar
Sedarlah!—1980 (No. 1)
g80_No1 hlm. 25-26

Pandangan Alkitab

Kawin ’Di Dalam Tuhan Saja’—Apakah Menjadi Masalah?

”APAKAH melanggar perintah Yehuwa untuk kawin dengan orang yang belum menganut Kekristenan sejati?” Dalam sebuah surat tertanggal 1 Oktober, 1978, seorang wanita yang masih lajang mengajukan pertanyaan tersebut, suatu pertanyaan yang juga dipikirkan oleh banyak orang.

Satu alasan yang membingungkannya adalah, karena beberapa orang Kristen telah memilih untuk kawin dengan orang-orang yang belum beriman. Namun ia juga mengetahui apa yang ditulis rasul Paulus dalam 1 Korintus 7:39. Di situ ia memberikan keterangan mengenai seorang wanita Kristen (tetapi berlaku juga bagi seorang pria) yang teman hidupnya telah meninggal. Kematian memang mengakhiri ikatan perkawinan. (Rm. 7:2) Jadi Paulus berkata bahwa yang ditinggalkan berhak menikah kembali. Ayat itu berakhir dengan kata-kata: ”ia bebas untuk kawin dengan siapa saja yang dikehendakinya, asal orang itu adalah seorang yang percaya [asal di dalam Tuhan saja, Bode].” (1 Kor. 7:39) Jika demikian, dia tetapi tidak ”bebas” kawin di luar Tuhan.

Apakah pertanyaan, ’di dalam Tuhan saja’ hanya dipandang sebagai nasehat manusia, nasehat pribadi dari seorang Kristen yang matang, seperti Paulus? Ataukah sebagai pedoman terilham dari Allah untuk hamba-hambaNya? Oleh karena itu, boleh jadi orang bertanya, ’Apakah ada alasan untuk memecat bila sengaja melanggar nasehat itu, seperti menurut Alkitab dilakukan terhadap pezinah, penyembah berhala atau pelaku homoseks yang tidak bertobat?’—1 Kor. 5:11-13; 6:9, 10.

Memperoleh Pandangan yang Benar

Bagian-bagian lain dari Firman Allah membantu kita agar memperoleh pandangan yang benar mengenai pembatasan yang dinyatakan dalam 1 Korintus 7:39. Misalnya, ingatlah sikap Abraham ketika memilih seorang isteri untuk Ishak. Abraham dan keluarganya tinggal di Kanaan yang dikelilingi oleh orang-orang yang menyembah ilah-ilah palsu. Di mana ia dapat mencarikan isteri untuk putranya? Mungkin yang paling tepat adalah memilih salah seorang wanita Kanaan yang memenuhi syarat, yang memiliki sifat-sifat yang baik dan yang berpandangan luas sehingga akan setuju bahwa anak-anak harus dididik untuk beribadat kepada Yehuwa. Akan tetapi, Abraham menolak berbuat demikian, karena itu akan berarti tidak setia kepada Yehuwa. Sebaliknya, walaupun harus bersusah-payah, dicarinya juga seorang isteri untuk Ishak dari antara sanak keluarga Abraham yang tinggal di tempat yang jauh. Mengapa? Karena sanak keluarganya itu mengenal Allah yang sejati.—Kej. 24:1-67; bandingkan dengan 26:34, 35; 28:6-9.

Beberapa waktu kemudian, ketika Allah memberikan hukumNya kepada bangsa Israel, Ia memperingatkan hamba-hambaNya: ”Janganlah juga engkau kawin-mengawinkan dengan [bangsa-bangsa di Kanaan]: anakmu perempuan janganlah kauberikan kepada anak laki-laki mereka, ataupun anak perempuan mereka jangan kauambil bagi anak-anakmu laki-laki.” Mengapa? ”Sebab mereka akan membuat anakmu laki-laki menyimpang dari padaKu, sehingga mereka beribadah kepada allah lain.”—Ul. 7:2-4; Kel. 34:14-16.

Tetapi bagaimana seandainya seorang kawin juga dengan penyembah ilah lain? Taurat tidak memerintahkan agar orang Israel tersebut disingkirkan. Halnya berbeda dengan hukum mengenai perzinahan: ”Apabila seseorang yang tidur dengan seorang perempuan yang bersuami, maka haruslah keduanya dibunuh . . . Demikianlah harus kauhapuskan yang jahat itu dari antara orang Israel.” (Ul. 22:22) Sama halnya dengan para penyembah berhala dan pelaku homoseks; mereka harus dihukum. (Kel. 22:20; Im. 20:13) Apakah tidak adanya hukuman bagi seorang yang mengawini orang yang belum beriman, berarti hal itu tidak menjadi soal? Tidak demikian! Peringatan Allah tegas dan beralasan, yaitu agar yang beriman tidak berpaling dari Yehuwa.

Untuk menandaskan fakta bahwa peringatan ilahi ini bukannya terlalu keras, Alkitab menceritakan apa yang terjadi atas Salomo. Walaupun Salomo telah memperoleh hikmat dari Allah, dengan bodoh ia mengambil juga isteri-isteri dari bangsa lain. Selama bertahun-tahun mereka memalingkan hatinya dari Yehuwa kepada dewa-dewa asing. Boleh jadi Salomo pada mulanya berpikir: ’Oh, saya tahu apa yang saya lakukan. Tidak mungkin saya meninggalkan Yehuwa.’ Tetapi kenyataannya, dia benar-benar meninggalkan Yehuwa.—1 Ra. 11:1-6.

Ketika bangsa Yahudi yang kembali dari tawanan di Babel mengambil isteri-isteri asing, baik Ezra maupun Nehemia dengan keras mengutuk mereka. Ezra berkata bahwa orang-orang yang melakukan hal itu ”telah melakukan perbuatan tidak setia” dan membawa ”kesalahan”; ia memerintahkan agar isteri-isteri bangsa kafir tersebut disingkirkan. Dan seraya menyebutkan contoh yang menyedihkan dari Salomo, Nehemia menunjuk kepada bangsa Yahudi yang mengawini orang-orang yang tidak beriman sebagai orang-orang yang ”berbuat segala kejahatan yang besar, yakni berubah setia terhadap Allah kita.”—Ezr. 10:10-14; Neh. 13:23-27.

Latar belakang dari Kitab Suci Ibrani ini seharusnya membantu kita untuk mengerti bagaimana sidang Kristen dan kita secara pribadi memandang perkara ini.

Di dalam Kitab Suci Kristen, disebutkan serangkaian dosa besar yang mengakibatkan pelaku yang tidak bertobat disingkirkan dari sidang. Bukan, bukan dengan dilempari batu seperti di Israel purbakala, tetapi dengan dikucilkan atau dipecat. Dosa-dosa ini antara lain ialah perzinahan, penyembahan berhala, percabulan, pencurian, pemabukan dan pemerasan. Seorang Kristen yang mengawini orang yang belum beriman tidak lagi disingkirkan seperti orang Israel purbakala. Tetapi, sebagaimana yang telah kita lihat dengan jelas, haluan tersebut sudah pasti salah di kalangan bangsa Israel. Perbuatan demikian tidak menunjukkan iman dan tidak setia kepada Allah Israel. Itulah sebabnya, kata-kata Paulus agar kawin ’di dalam Tuhan saja’ tidak dapat dianggap remeh, hanya sebagai pendapat manusia saja. Kata-katanya itu sebenarnya adalah kelanjutan dari seluruh nasehat Firman Allah berkenaan hal tersebut. Kini kata-kata tersebut sudah merupakan bagian dari Alkitab terilham yang bermanfaat ”untuk memperbaiki kelakuan dan untuk mendidik orang dalam kebenaran.”—2 Tim. 3:16.

Karena tidak sempurna, kita semua setiap hari gagal untuk tetap setia kepada nasehat Allah yang bijaksana dan pengasih. Jadi, kemungkinan kontak yang tidak direncanakan di tempat kerja atau di sekolah, telah menyebabkan beberapa orang Kristen membiarkan hubungan romantis berkembang dengan orang-orang yang belum beriman. Ini terutama berbahaya bila tidak ada teman-teman Kristen yang cocok untuk bergaul. Akan tetapi, bila perasaan terhadap orang yang belum beriman itu menjadi kuat, ia dapat disesatkan oleh hati yang menipu sehingga berpikir tidak mungkin lagi memutuskan hubungan itu. (Yer. 17:9; Ams. 28:26) Seorang mungkin berpikir, ’Orang-orang yang menjadi Kristen di abad pertama juga mempunyai teman hidup yang belum beriman. Ternyata orang-orang Kristen ini tetap setia, bahkan berharap agar teman hidup mereka mau menjadi orang yang percaya. Jadi, jika kami kawin, siapa tahu teman hidup saya akan menjadi orang beriman juga.’—1 Kor. 7:12-16.

Tetapi andaikan pun beberapa teman hidup yang belum beriman telah menerima Kekristenan, apakah kita dengan jujur dapat berpikir bahwa nasehat Allah keliru? Apakah kita lebih tahu dari pada Yehuwa? Banyak contoh yang tak terhitung sejak zaman Salomo sampai ke zaman kita, yang menguatkan hikmat dari peringatan Allah, yakni bahwa orang yang belum beriman dapat memalingkan teman hidupnya dari Yehuwa. Walaupun akibatnya bukan melayani ilah palsu, tetapi hanya menghasilkan perselisihan terus-menerus dan kepedihan oleh karena dirintangi dalam mengamalkan ibadat Kristen yang sejati dengan sepenuh jiwa, bukankah lebih baik menghindari keadaan yang demikian?

Semua orang Kristen yang matang mengharapkan agar mereka yang telah menikah dengan orang-orang yang belum beriman, dapat dibantu sehingga tidak akan meninggalkan Yehuwa. (Gal. 6:1, 2) Akan tetapi, bagi mereka yang mungkin sedang memikirkan untuk menikah, betapa jauh lebih baik dan lebih mendatangkan kebahagiaan serta berkat Allah, bila kita menyadari bahwa nasehat Allah agar kawin ’hanya di dalam Tuhan saja’ adalah sangat penting. Setiap Orang Kristen yang berbakti yang benar-benar menerima nasehat tersebut akan memilih calon teman hidup hanya orang yang telah terbukti sebagai hamba Yehuwa yang berbakti.

    Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2026)
    Log Out
    Log In
    • Indonesia
    • Bagikan
    • Pengaturan
    • Copyright © 2026 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
    • Syarat Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • Pengaturan Privasi
    • JW.ORG
    • Log In
    Bagikan