PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • Berdoa Di Hadapan Orang-Orang Lain Dengan Rendah Hati
    Menara Pengawal—1986 (Seri 24) | Menara Pengawal—1986 (Seri 24)
    • Paulus menyinggung suatu prinsip penting lain ketika ia menulis, ”Jika aku berdoa dengan bahasa roh, maka [karunia, NW] rohkulah yang berdoa, tetapi akal budiku tidak turut berdoa. . . . Jika engkau mengucap syukur dengan [karunia, NW] rohmu saja, bagaimanakah orang biasa yang hadir sebagai pendengar dapat mengatakan ’amin’ atas pengucapan syukurmu? Bukankah ia tidak tahu apa yang engkau katakan?” (1 Korintus 14:14-16) Pada jaman Paulus orang-orang Kristen tertentu menerima karunia lidah atau bahasa roh secara mujizat, dan rupanya ada di antara mereka yang berdoa dalam bahasa-bahasa ini di depan sidang. Tetapi seperti diperlihatkan Paulus, orang-orang lain di sidang tidak mengertinya.

      Dewasa ini, karunia mujizat sedemikian tidak ada lagi. Tetapi orang-orang Kristen yang berdoa demi kepentingan orang-orang lain harus berdoa sedemikian rupa sehingga dapat dimengerti. Misalnya, pada awal khotbah umum, kita mengundang para hadirin untuk ikut berdoa bersama kita. Dalam doa sedemikian, tentu masuk akal jika kita tidak mengucapkan kata-kata atau persoalan yang sulit dimengerti oleh para hadirin.

  • Berdoa Di Hadapan Orang-Orang Lain Dengan Rendah Hati
    Menara Pengawal—1986 (Seri 24) | Menara Pengawal—1986 (Seri 24)
    • [Kotak di hlm. 27]

      Apakah cocok jika para pendengar mengatakan ”Amin” dengan keras pada akhir doa di hadapan umum?

      Ya, jika mereka ingin atau merasa terdorong untuk berbuat demikian. Paulus berbicara tentang ”Amin” yang diucapkan oleh mereka yang mendengarkan suatu doa, meskipun ia tidak secara khusus mengatakan apakah hal ini kedengaran, atau dalam hati. (1 Korintus 14:16) Namun, di bawah Hukum Musa, ada suatu kesempatan di mana orang-orang Israel secara khusus diperintahkan untuk mengatakan ”Amin!” dengan keras. (Ulangan 27:14-26) Jadi, bila orang yang berdoa mengatakan ”Amin” pada akhir dari doanya, adalah patut jika para pendengar mengatakan ”Amin” dalam hati atau kedengaran dengan suara keras. Para orangtua hendaknya melatih anak-anak mereka untuk memperlihatkan penghargaan yang sepatutnya dalam cara mereka menyatakan ”Amin” dengan suara rendah.

Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2026)
Log Out
Log In
  • Indonesia
  • Bagikan
  • Pengaturan
  • Copyright © 2026 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
  • Syarat Penggunaan
  • Kebijakan Privasi
  • Pengaturan Privasi
  • JW.ORG
  • Log In
Bagikan