PERPUSTAKAAN ONLINE Menara Pengawal
PERPUSTAKAAN ONLINE
Menara Pengawal
Indonesia
  • ALKITAB
  • PUBLIKASI
  • PERHIMPUNAN
  • w84_No62 hlm. 1-3
  • Pendirian Seorang Rasul Terhadap Kemurtadan

Tidak ada video untuk bagian ini.

Maaf, terjadi error saat ingin menampilkan video.

  • Pendirian Seorang Rasul Terhadap Kemurtadan
  • Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa—1984 (No. 62)
  • Subjudul
  • Apakah Kristus Datang Sebagai Manusia?
  • Yesus Bukan Kristus?
  • Apakah Kita Orang-Orang Yang Berdosa?
  • Apa Yang Menggerakkan Kemurtadan?
  • Pencegah Dosa dan Kemurtadan
Menara Pengawal Memberitakan Kerajaan Yehuwa—1984 (No. 62)
w84_No62 hlm. 1-3

Pendirian Seorang Rasul Terhadap Kemurtadan

Untuk mendapatkan manfaat yang sebesar-besarnya dari artikel ini, kami anjurkan agar saudara membaca buku Alkitab yang dikenal sebagai Surat Yohanes yang Pertama. Isinya hanya beberapa halaman saja.

MENJELANG akhir abad pertama Tarikh Masehi, suatu bahaya yang serius dan terselubung mengancam sidang Kristen yang mula-mula. Apakah penindasan dari orang-orang di luar masyarakat Kristen? Tidak, bahaya utama datang dari dalam. Musuh yang mengintai adalah kemurtadan.

Menjelang tahun 98 M. seorang rasul masih hidup untuk bertindak sebagai pertahanan terakhir terhadap apa yang belakangan akan terbukti sebagai gelombang pengajaran-pengajaran palsu serta kompromi agama dan politik. Ia adalah rasul Yohanes yang sudah tua, putra Zebedeus dan saudara dari rasul Yakobus, yang mati sahid kira-kira 54 tahun sebelumnya. Ketika masih muda, Yohanes melayani bersama dengan Yesus selama pelayanan Yesus yang singkat di bumi. Mungkin karena kepribadian Yohanes yang dinamis Yesus menyebutnya ’Putra Guruh.’ Kini ia sudah sangat tua, namun ia berusaha untuk menulis sebuah surat yang berbobot memuat peringatan dan nasihat kepada sidang Kristen. Apa yang ia katakan masih tetap penting bagi kita dewasa ini.—Markus 3:17; Lukas 9:51-56.

Yohanes sadar sepenuhnya bahwa kemurtadan menyelusup di antara rekan-rekan seimannya. Rasul Paulus sebelumnya sudah menubuatkan kejatuhan sedemikian. (Kisah 20:29, 30) Dengan kata-kata yang tegas Yohanes menyingkapkan para penipu. Ia berkata: ”Sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. Memang mereka berasal [sudah keluar, Bode] dari antara kita, tetapi mereka tidak sungguh-sungguh termasuk pada kita; sebab jika mereka sungguh-sungguh termasuk pada kita, niscaya mereka tetap bersama-sama dengan kita.” Kenyataan bahwa Yohanes berbicara tentang ”banyak antikristus” dalam bentuk jamak menunjukkan bahwa kemurtadan tidak terbatas pada satu orang, tetapi menyangkut banyak orang yang menolak pandangan tentang Kristus yang dinyatakan dalam Alkitab.—1 Yohanes 2:18, 19.

Siapakah antikristus-antikristus itu? Dan bagaimana mereka berusaha memperdayakan rekan-rekan seiman mereka? Yohanes berterus terang dalam menyingkapkan orang-orang murtad yang antikristus ini. Ia menyerang mereka dengan tiga alasan: (1) menolak bahwa Kristus telah datang sebagai manusia, (2) menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus dan Putra Allah dan (3) menyangkal bahwa mereka sendiri adalah pedosa-pedosa.

Apakah Kristus Datang Sebagai Manusia?

Tetapi mungkin saudara bertanya, ’Bagaimana mungkin orang-orang yang percaya menyangkal bahwa Yesus telah datang sebagai manusia?’ Jelaslah, pada akhir dari abad pertama ada orang-orang Kristen yang telah dipengaruhi oleh filsafat Yunani, termasuk Gnostikisme yang mula-mula (yang mengajarkan bahwa keselamatan diperoleh dengan pengetahuan dan bukan kepercayaan dan kebajikan). Orang-orang yang murtad ini menganut pandangan bahwa semua perkara jasmani adalah jahat, termasuk tubuh jasmani. Jadi, bagi antikristus-antikristus yang murtad, Yesus tidak datang dalam tubuh jasmani yang jahat tetapi, sebagai roh. Yohanes dengan jelas memperlihatkan bahwa ia tidak menyetujui pemikiran teologis sedemikian yang menyangkal manfaat besar dari korban tebusan Kristus. Maka ia menulis tentang ”Yesus Kristus, yang adil” yang adalah ”pendamaian untuk segala dosa kita, dan bukan untuk dosa kita saja, tetapi juga untuk dosa seluruh dunia.”—1 Yohanes 2:1, 2.

Kemudian, dengan definisi yang sederhana dan mutlak, Yohanes menjelaskan persoalan ini lebih lanjut, dengan mengatakan: ”Setiap roh yang mengaku, bahwa Yesus Kristus telah datang sebagai manusia, berasal dari Allah, dan setiap roh, yang tidak mengaku Yesus, tidak berasal dari Allah.”—1 Yohanes 4:2, 3.

Yesus Bukan Kristus?

Rupanya orang-orang lain yang mengaku Kristen dari keturunan Yahudi mulai menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus dan Putra Allah. Yohanes mencela kurangnya iman sedemikian, dengan mengatakan: ”Siapakah pendusta itu? Bukankah dia yang menyangkal bahwa Yesus adalah Kristus? Dia itu adalah antikristus, yaitu dia yang menyangkal baik Bapa maupun Anak.” (1 Yohanes 2:22) Kata-kata Yohanes yang terus terang tidak perlu diragukan lagi.

Yohanes kemudian mengajukan pertanyaan lain untuk mendukung jalan pikirannya: ”Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah? . . . Semuanya itu kutuliskan kepada kamu, supaya kamu yang percaya kepada nama Anak Allah, tahu, bahwa kamu memiliki hidup yang kekal.”—1 Yohanes 5:5, 13.

Apakah Kita Orang-Orang Yang Berdosa?

Mungkin nampaknya tidak dapat dipercaya, tetapi beberapa dari antara antikristus itu mengatakan bahwa mereka tidak berdosa atau mungkin (karena mereka menganggap diri mereka sudah diselamatkan) berpikir bahwa mereka tidak dapat berbuat dosa. Karena itu Yohanes mengupas habis-habisan buah pikiran yang keliru ini di seluruh suratnya. Misalnya, ia mengatakan: ”Jika kita berkata, bahwa kita tidak berdosa, maka kita menipu diri kita sendiri dan kebenaran tidak ada di dalam kita. . . . Jika kita berkata, bahwa kita tidak berbuat dosa, maka kita membuat Dia [Allah] menjadi pendusta dan firmanNya tidak ada di dalam kita.”—1 Yohanes 1:8-10.

’Tetapi apa artinya dosa?’ mungkin saudara bertanya. Kata Yunani ha.martiʹ a secara aksara berarti ”luput dari sasaran.” Namun di bawah ilham Yohanes memberikan definisi yang lebih luas: ”Setiap orang yang berbuat dosa, melanggar juga hukum Allah, sebab dosa ialah pelanggaran hukum Allah [bahasa Yunani, anomia, menyatakan kebencian terhadap dan pelanggaran hukum, perbuatan salah, kejahatan] . . . barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis . . . Setiap orang yang lahir dari Allah, tidak berbuat dosa lagi.”—1 Yohanes 3:4, 8, 9.

Memang, kita semua adalah orang-orang yang berdosa. Tetapi Yohanes terutama menegur pedosa atau pelanggar hukum yang sengaja, orang ”yang berbuat dosa,” yang mempraktekkannya. Belakangan, ia menyingkapkan seriusnya keadaan bagi orang yang mempraktekkan dosa dengan menyatakan: ”Inilah tandanya anak-anak Allah dan anak-anak Iblis: setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.” (1 Yohanes 3:10; 5:18) Maka, semoga kita tidak mempraktekkan dosa, yang tidak bersifat Kristen itu.

Apa Yang Menggerakkan Kemurtadan?

Apa yang mungkin menjadi motif utama di balik berbagai ajaran yang murtad ini? Satu kemungkinan diberikan oleh William Barclay, seorang sarjana Yunani abad ke-20. Ia menulis bahwa kesulitan yang Yohanes berusaha melawannya datang dari orang-orang ”yang mengetahui kecenderungan-kecenderungan intelektual dan arus pada jaman itu, dan yang ingin mengungkapkan Kekristenan untuk dikompromikan dengan filsafat duniawi dan dengan buah-buah pikiran yang berlaku pada waktu itu.”

Suatu pandangan yang serupa, yang menyerang dasar-dasar iman yang sejati, telah didukung oleh beberapa orang pada jaman modern ini. Pembantah-pembantah tersebut ingin mencairkan ajaran Kristen dan membuatnya lebih dapat diterima oleh unsur-unsur yang terhormat dan intelektual dari susunan ini. Apabila pandangan-pandangan demikian yang dianut oleh beberapa orang di tahun-tahun belakangan ini dilaksanakan, Saksi-Saksi Yehuwa pasti akan kehilangan sifat-sifat dan kekuatan ”Kristen primitif” mereka yang unik.

Maka, nasihat Yohanes begitu cocok bahkan dewasa ini: ”Sebab inilah kasih kepada Allah, yaitu, bahwa kita menuruti perintah-perintahNya. Perintah-perintahNya itu tidak berat.” Perintah-perintah tersebut mencakup memberitakan kabar baik dari Kerajaan Allah dan menjaga diri terpisah dari dunia dan netral dalam pertikaian-pertikaiannya, seraya berusaha keras untuk menyucikan nama Yehuwa dan mempraktekkan kasih yang sejati.—1 Yohanes 5:3; Markus 13:10; Yohanes 17:16; Matius 6:9; 1 Yohanes 3:23.

Pencegah Dosa dan Kemurtadan

Apakah ada rem penahan terhadap mempraktekkan dosa? Jawaban Yohanes ialah: ”Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, SEBAB ALLAH ADALAH KASIH.” Jadi dengan sangat sederhana, Yohanes mencamkan pendiriannya. Kasih adalah kuncinya. Dan kasih Allah yang dinyatakan melalui PutraNya adalah pencegah akibat-akibat dari dosa. ”Dalam hal inilah kasih Allah dinyatakan di tengah-tengah kita, yaitu bahwa Allah telah mengutus AnakNya yang tunggal ke dalam dunia, supaya kita hidup olehNya.” Bagaimana seharusnya pengetahuan ini mempengaruhi kita? Yohanes menjawab: ”Saudara-saudaraku yang kekasih, jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.”—1 Yohanes 4:8-11.

Jika kita benar-benar mengasihi Allah dan sesama, maka kita akan menolak serangan-serangan dosa dan kemurtadan. Kasih tidak berarti sengaja melawan hukum-hukum dan prinsip-prinsip Allah. Meskipun demikian, Yohanes memperingatkan: ”Ada dosa yang mendatangkan maut.” Orang-orang murtad yang tidak mau bertobat pastilah termasuk dalam golongan orang-orang yang patut dibinasakan.—1 Yohanes 5:16, 17; Matius 12:31; Lukas 12:10; Ibrani 6:4-6; 10:23-27.

Jika dosa dan kemurtadan merupakan benang hitam yang melintang dalam surat Yohanes, kasih yang sejati adalah kalung mutiara yang menutupinya. Meskipun memuat peringatan yang suram, surat tersebut dengan jelas diterangi oleh tiga tema yang diulang-ulangi—kasih, terang dan kehidupan. Yohanes mengatakan, ’Hindari pendusta-pendusta, para antikristus, orang-orang yang murtad. Buanglah kegelapan, berjalanlah dalam terang. Tolaklah kebencian dan praktekkan kasih. Lawanlah dosa, dengan menyadari bahwa jika kamu berbuat dosa kamu mempunyai pembantu atau pembela di hadapan Bapa, Yesus Kristus.’ Ya, ”inilah kesaksian itu: Allah telah mengaruniakan hidup yang kekal kepada kita dan hidup itu ada di dalam AnakNya.”—1 Yohanes 5:11; 2:1, 2.

Dalam nasihatnya yang terakhir Yohanes memperingatkan: ”Anak-anakku, waspadalah terhadap segala berhala.” (1 Yohanes 5:21) Dalam dunia Roma purba nasihat demikian sangat cocok. Dan kepada mereka dewasa ini yang ingin mengamalkan Kekristenan yang sejati dan menghindari kemurtadan, nasihat itu masih tetap penting. Maka, semoga kita mengindahkan nasihat Yohanes yang terilham. Ini akan membantu kita untuk melawan dosa, mempraktekkan kasih Kristen yang sejati, berjalan dalam lorong-lorong kebenaran dan mempertahankan sikap yang teguh terhadap kemurtadan.

[Gambar di hlm. 2]

Greek philosophy led to apostasy

    Publikasi Menara Pengawal Bahasa Indonesia (1971-2026)
    Log Out
    Log In
    • Indonesia
    • Bagikan
    • Pengaturan
    • Copyright © 2026 Watch Tower Bible and Tract Society of Pennsylvania
    • Syarat Penggunaan
    • Kebijakan Privasi
    • Pengaturan Privasi
    • JW.ORG
    • Log In
    Bagikan