Oktober
Minggu, 1 Oktober
Orang yang tidak tersandung karena aku adalah orang yang bahagia.—Mat. 11:6.
Semua ajaran dan kepercayaan kita berasal dari Alkitab. Meski begitu, banyak orang tersandung karena mereka merasa bahwa cara kita beribadah terlalu sederhana. Mereka juga merasa bahwa apa yang kita ajarkan tidak sesuai dengan keinginan mereka. Apa yang perlu kita lakukan agar tidak tersandung? Rasul Paulus mengatakan kepada orang-orang Kristen di Roma, ”Orang hanya akan beriman setelah mendengar berita itu, dan berita itu didengar ketika ada yang memberitakan tentang Kristus.” (Rm. 10:17) Jadi, kita bisa memperkuat iman kita dengan mempelajari Alkitab, bukan dengan mengikuti upacara-upacara keagamaan yang tidak berdasarkan Alkitab, meskipun acara-acara itu terlihat sangat indah dan mengesankan. Kita harus punya iman yang kuat dan didasarkan atas pengetahuan yang benar karena ”tanpa iman, orang tidak mungkin menyenangkan Allah”. (Ibr. 11:1, 6) Ya, kita tidak perlu melihat tanda yang luar biasa dari surga untuk membuktikan bahwa kita telah menemukan kebenaran. Kalau kita benar-benar mempelajari Alkitab, itu sudah cukup untuk membuat kita yakin, dan itu bisa menyingkirkan keraguan apa pun. w21.05 4-5 ¶11-12
Senin, 2 Oktober
Apa yang saya alami ternyata memajukan kabar baik.—Flp. 1:12.
Rasul Paulus menghadapi banyak kesulitan. Dia khususnya membutuhkan kekuatan dari Yehuwa saat dia dipukuli, dilempari batu, dan dipenjarakan. (2 Kor. 11:23-25) Selain itu, Paulus dengan terus terang mengakui bahwa dia kadang harus berjuang melawan perasaan negatif. (Rm. 7:18, 19, 24) Dia juga menghadapi masalah kesehatan yang bagaikan ”duri dalam daging”, dan dia ingin sekali agar Allah menyingkirkan masalahnya itu. (2 Kor. 12:7, 8) Karena kekuatan yang Yehuwa berikan, Paulus bisa terus melakukan pelayanannya meskipun menghadapi berbagai kesulitan. Pikirkan apa saja yang bisa Paulus lakukan. Misalnya, sewaktu menjadi tahanan rumah di Roma, Paulus mengabar dengan bersemangat kepada para pemimpin Yahudi dan kemungkinan kepada para pejabat pemerintah. (Kis. 28:17; Flp. 4:21, 22) Dia juga mengabar kepada para Pengawal Kerajaan dan kepada orang-orang yang mengunjungi dia. (Kis. 28:30, 31; Flp. 1:13) Selain itu, selama Paulus menjadi tahanan, Allah menggunakan dia untuk menulis beberapa surat yang menguatkan orang-orang Kristen dari abad pertama sampai sekarang. w21.05 21 ¶4-5
Selasa, 3 Oktober
”Jangan melebihi apa yang tertulis.” Dengan begitu, kalian tidak akan sombong.—1 Kor. 4:6.
Uzia adalah raja Yehuda yang sukses. Dia memenangkan banyak perang, membangun banyak kota dan menara, serta memiliki banyak ladang dan ternak, karena ”Allah yang benar membuatnya makmur”. (2 Taw. 26:3-7, 10) Tapi Alkitab berkata, ”Begitu dia menjadi kuat, hatinya menjadi sombong sampai membuat dirinya sendiri hancur.” Akibatnya, Uzia bertindak lancang dan tidak mau dinasihati. Dia masuk ke bait dan mempersembahkan dupa, padahal Yehuwa sudah menentukan bahwa hanya imam yang boleh melakukannya. Yehuwa tidak senang melihat itu, dan Dia membuat Uzia terkena kusta. (2 Taw. 26:16-21) Apakah kita bisa menjadi sombong dan berdosa seperti Uzia? Ya, bisa kalau kita terlalu memikirkan diri sendiri. Ingatlah, kesanggupan apa pun yang kita miliki dan tanggung jawab apa pun yang kita terima di sidang, semuanya berasal dari Yehuwa. (1 Kor. 4:7) Kalau kita sombong, Yehuwa tidak mau menggunakan kita. w21.06 16 ¶7-8
Rabu, 4 Oktober
Jangan bersukacita karena roh-roh itu patuh kepada kalian, tapi bersukacitalah karena nama kalian sudah ditulis di surga.—Luk. 10:20.
Yesus tahu bahwa murid-muridnya tidak akan selalu mendapatkan hasil yang luar biasa dalam pelayanan mereka. Dan memang, dari antara semua orang yang ditemui para murid itu, kita tidak tahu ada berapa banyak yang belakangan menjadi orang Kristen. Para murid itu harus memahami bahwa sukacita mereka tidak hanya bergantung pada tanggapan orang. Tapi, mereka terutama bisa bersukacita karena tahu bahwa Yehuwa senang dengan kerja keras mereka. Kalau kita bertekun melakukan pelayanan, kita akan mendapat kehidupan abadi. Sewaktu kita dengan sepenuh hati menabur dan memupuk benih kebenaran, kita ”menabur sesuai dengan bimbingan kuasa kudus”. Mengapa kita bisa mengatakan begitu? Karena sewaktu kita melakukan pelayanan, kita menunjukkan bahwa kita mau dibimbing oleh kuasa kudus. Kalau kita ”tidak menyerah”, Yehuwa berjanji bahwa Dia akan memberi kita kehidupan abadi, meskipun kita tidak pernah membantu seseorang sampai dibaptis.—Gal. 6:7-9. w21.10 26 ¶8-9
Kamis, 5 Oktober
Dia tergerak oleh rasa kasihan . . . Maka dia mulai mengajar mereka banyak hal.—Mrk. 6:34.
Suatu waktu, Yesus dan murid-muridnya sangat capek karena habis mengabar seharian. Waktu mereka mau beristirahat, sekumpulan besar orang datang menemui mereka. Karena Yesus merasa kasihan, dia mulai mengajar orang-orang itu ”banyak hal”. Yesus membayangkan bagaimana rasanya menjadi sekumpulan besar orang itu. Dia tahu bahwa mereka sangat menderita dan butuh harapan. Jadi, dia mau membantu mereka. Sekarang, keadaan orang-orang juga seperti itu. Meskipun ada yang kelihatannya bahagia dan puas dengan kehidupan mereka, mereka sebenarnya sangat menderita dan butuh harapan. Mereka seperti domba yang tersesat dan tanpa gembala. Rasul Paulus menggambarkan orang-orang seperti itu sebagai orang yang tidak mengenal Allah dan tidak punya harapan. (Ef. 2:12) Jadi, cobalah bayangkan keadaan orang-orang di daerah kita yang belum mengenal Allah. Karena mengasihi dan merasa kasihan kepada mereka, kita mau membantu mereka. Dan cara terbaik untuk melakukannya adalah dengan menawarkan pelajaran Alkitab kepada mereka. w21.07 5 ¶8
Jumat, 6 Oktober
Janganlah kita merasa diri penting, . . . iri hati satu sama lain.—Gal. 5:26.
Orang yang merasa diri penting itu sombong dan tidak peduli kepada orang lain. Orang yang iri hati tidak hanya menginginkan apa yang orang lain miliki, tapi dia bahkan berharap orang tersebut kehilangan miliknya itu. Jadi, iri hati sama saja dengan membenci. Sifat iri hati dan merasa diri penting bisa disamakan seperti kotoran yang masuk ke bahan bakar pesawat. Pesawat itu mungkin masih bisa lepas landas dan terbang selama beberapa waktu. Tapi, karena pipa bahan bakarnya tersumbat oleh kotoran tadi, akibatnya, pesawat itu jatuh dan hancur. Begitu juga dengan orang yang iri hati dan merasa diri penting. Mungkin dia bisa melayani Yehuwa selama beberapa waktu, tapi akhirnya dia akan jatuh juga. (Ams. 16:18) Sifat-sifat buruk itu akan membuat dia berhenti melayani Yehuwa. Dan, yang dirugikan bukan hanya dia, tapi orang lain juga. Agar kita tidak sampai merasa diri penting, kita perlu ingat nasihat Rasul Paulus: ”Jangan suka bertengkar atau merasa diri penting. Sebaliknya, dengan rendah hati, anggaplah orang lain lebih tinggi daripada kalian.”—Flp. 2:3. w21.07 15-16 ¶6-8
Sabtu, 7 Oktober
Kabar baik yang kami beritakan itu sampai kepada kalian, bukan hanya dengan kata-kata, tapi juga dengan pengaruh yang kuat, dengan kuasa kudus, dan dengan keyakinan yang teguh.—1 Tes. 1:5.
Ada orang-orang yang merasa bahwa agama yang benar seharusnya bisa menjawab semua pertanyaan, bahkan pertanyaan yang tidak dibahas di dalam Alkitab. Tapi apakah itu masuk akal? Coba perhatikan contoh Rasul Paulus. Dia menganjurkan rekan-rekan seimannya untuk ’memeriksa segala sesuatu dan memastikan mana yang benar’. (1 Tes. 5:21) Tapi dia juga mengakui bahwa ada banyak hal yang tidak dia pahami. Dia menulis, ”Pengetahuan kita tidak lengkap.” Dan dia menambahkan, ”Kita hanya melihat bayangan samar-samar lewat cermin logam.” (1 Kor. 13:9, 12) Paulus tidak memahami segala hal, dan kita juga tidak. Tapi, Paulus mengetahui kebenaran dasar tentang Yehuwa dan kehendak-Nya. Apa yang dia ketahui itu sudah cukup untuk membuat dia yakin bahwa dia memiliki kebenaran! Bagaimana kita bisa memperkuat keyakinan bahwa kita memiliki kebenaran? Salah satu caranya adalah dengan membandingkan cara beribadah Saksi-Saksi Yehuwa dengan pola ibadah yang Yesus tetapkan. w21.10 18-19 ¶2-4
Minggu, 8 Oktober
Setelah berumur 50 tahun, dia harus pensiun.—Bil. 8:25.
Saudara-saudari lansia, tidak soal kalian melayani dalam dinas sepenuh waktu atau tidak, ada banyak yang bisa kalian lakukan untuk membantu orang lain. Jadi, berusahalah untuk tetap bersukacita dengan keadaan kalian sekarang, tetapkan tujuan-tujuan baru, dan fokuslah pada apa yang bisa kalian lakukan. Raja Daud ingin sekali membangun rumah untuk Yehuwa. Tapi, Yehuwa memberi tahu dia bahwa tugas ini akan diberikan kepada Salomo yang masih muda. Daud mau menerima keputusan Yehuwa, dan dia berusaha sebisa-bisanya untuk membantu persiapan proyek itu. (1 Taw. 17:4; 22:5) Daud tidak merasa bahwa dia bisa membangun bait Yehuwa dengan lebih baik karena Salomo ”masih muda dan kurang berpengalaman”. (1 Taw. 29:1) Daud tahu bahwa keberhasilan proyek itu bergantung pada Yehuwa, bukan pada usia atau pengalaman orang yang memimpin proyeknya. Seperti Daud, para lansia sekarang tetap aktif melayani Yehuwa, bahkan saat tugas mereka berubah. Dan mereka tahu, Yehuwa akan memberkati anak-anak muda yang menggantikan tugas mereka. w21.09 9 ¶4; 10 ¶5, 8
Senin, 9 Oktober
Dia akan membimbing orang lembut hati di jalan yang benar; Dia akan mengajarkan jalan-Nya kepada orang lembut hati.—Mz. 25:9.
Kalau kita menetapkan tujuan-tujuan rohani, hidup kita akan lebih bermakna dan memuaskan. Tapi, tujuan yang kita tetapkan harus sesuai dengan kesanggupan dan situasi kita, tidak perlu sama dengan orang lain. Kalau kita menetapkan tujuan yang tidak masuk akal, kita bisa kecewa dan kecil hati. (Luk. 14:28) Sebagai hamba Yehuwa, Saudara adalah anggota yang unik dan berharga dalam keluarga-Nya. Yehuwa menarik Saudara kepada-Nya bukan karena Saudara lebih baik dari orang lain. Tapi, itu karena Dia mengamati hati Saudara, dan Dia melihat bahwa Saudara lembut hati, mau belajar dari-Nya, dan bisa dibentuk. Yakinlah, Yehuwa senang kalau Saudara melayani Dia dengan sebisa-bisanya, sesuai kesanggupan Saudara. Ketekunan dan kesetiaan Saudara membuktikan bahwa ”hati [Saudara] tulus dan baik”. (Luk. 8:15) Jadi, teruslah berikan yang terbaik kepada Yehuwa, dan Saudara akan bergembira ”karena diri [Saudara] sendiri”.—Gal. 6:4. w21.07 24 ¶15; 25 ¶20
Selasa, 10 Oktober
Orang yang membantu orang berdosa itu berbalik dari kesalahannya akan menyelamatkannya.—Yak. 5:20.
Kita perlu sabar ketika ada situasi yang tidak adil. Misalnya, setelah para penatua tahu bahwa ada yang melakukan dosa serius di sidang, mereka berdoa untuk meminta ”hikmat dari atas”. Dengan begitu, mereka bisa menilai situasinya dari sudut pandang Yehuwa. (Yak. 3:17) Tujuan mereka adalah sebisa mungkin membantu orang berdosa itu ”berbalik dari kesalahannya”. (Yak. 5:19, 20) Mereka juga berusaha sebisa-bisanya untuk melindungi sidang dan menghibur saudara-saudari yang terkena dampaknya. (2 Kor. 1:3, 4) Lalu, untuk menangani kasus dosa serius, para penatua harus mencari tahu dulu apa yang sebenarnya terjadi, dan itu mungkin memakan waktu. Lalu mereka berdoa, memberikan nasihat yang dipersiapkan baik-baik dari Alkitab, dan mengoreksi orang yang berdosa itu ”sampai taraf yang patut”. (Yer. 30:11) Para penatua tidak mau terburu-buru dalam membuat keputusan. Nah, kalau masalahnya ditangani sesuai petunjuk dari Yehuwa, hasilnya akan sangat bagus untuk seluruh sidang. w21.08 10-11 ¶12-13
Rabu, 11 Oktober
Ke mana Ibu pergi, aku akan pergi . . . Bangsa Ibu akan menjadi bangsaku, dan Allah Ibu akan menjadi Allahku.—Rut 1:16.
Karena Israel dilanda kelaparan, Naomi pindah ke Moab bersama suami dan kedua putranya. Di sana, suami Naomi meninggal. Kedua putranya menikah, tapi belakangan mereka juga meninggal. (Rut 1:3-5) Semua hal itu membuat Naomi sangat terpukul. Dia menjadi sangat kecil hati sampai-sampai dia merasa bahwa Yehuwa sedang menghukum dia. Perhatikan bagaimana dia mengungkapkan perasaannya: ”Tangan Yehuwa telah menghukum aku.” ”Yang Mahakuasa telah membuat hidupku sangat pahit.” Dia juga mengatakan, ”Yehuwa menentang aku, dan Yang Mahakuasa membuat aku tertimpa bencana.” (Rut 1:13, 20, 21) Yehuwa memahami perasaan Naomi. Yehuwa tahu bahwa ”orang berhikmat bisa menjadi tidak masuk akal karena ditindas”. (Pkh. 7:7, ctk.) Yehuwa menggerakkan Rut untuk menunjukkan kasih setia kepada Naomi. Rut dengan tulus dan lembut membantu Naomi agar ibu mertuanya itu bisa terhibur dan kuat lagi secara rohani. w21.11 9 ¶9-10; 10 ¶13
Kamis, 12 Oktober
Teruslah memintanya kepada Allah.—Yak. 1:5.
Kalau kita fokus pada tugas kita yang sekarang, apakah itu berarti kita tidak perlu berusaha melakukan lebih banyak untuk Yehuwa? Bukan begitu. Kita bisa dan kita harus punya tujuan rohani, misalnya untuk lebih terampil dalam mengabar dan mengajar atau lebih banyak membantu saudara-saudari. Kita bisa meraih tujuan-tujuan itu kalau kita fokus membantu orang lain dan tidak terlalu memikirkan diri sendiri. (Ams. 11:2; Kis. 20:35) Tujuan apa saja yang bisa Saudara tetapkan? Mintalah bantuan Yehuwa supaya Saudara bisa tahu tujuan apa yang bisa Saudara raih. (Ams. 16:3) Apakah Saudara bisa meraih tujuan seperti merintis ekstra, merintis biasa, kerja di Betel, atau ikut proyek pembangunan? Atau, bisakah Saudara belajar bahasa lain atau mengabar di daerah yang lebih membutuhkan? w21.08 23 ¶14-15
Jumat, 13 Oktober
Kasih setia [Yehuwa] bertahan selamanya.—Mz. 136:1.
Yehuwa sangat menyukai kasih setia. (Hos. 6:6) Melalui Nabi Mikha, Allah mengatakan bahwa kita harus ”mengasihi kasih setia”. (Mi. 6:8, ctk.) Tapi, supaya kita bisa mengasihi kasih setia, kita perlu mengetahui dulu arti dari kasih setia. Istilah ”kasih setia” muncul sekitar 200 kali dalam Kitab Suci Terjemahan Dunia Baru. Menurut ”Daftar Istilah Alkitab” dalam terjemahan itu, inilah arti kasih setia: ”Kasih yang ditunjukkan karena memiliki komitmen, integritas, kesetiaan, dan ikatan yang erat. Istilah ini sering dipakai untuk kasih Allah bagi manusia, tapi kasih ini juga ditunjukkan oleh manusia kepada sesamanya.” Yehuwa adalah teladan terbaik dalam menunjukkan kasih setia. Itulah sebabnya Raja Daud mengatakan, ”Oh Yehuwa, kasih setia-Mu sampai ke langit . . . Kasih setia-Mu begitu berharga, oh Allah!” (Mz. 36:5, 7) Seperti Daud, apakah kita benar-benar menghargai kasih setia Allah? w21.11 2 ¶1-2; 3 ¶4
Sabtu, 14 Oktober
Jadi berdoalah seperti ini: ”Bapak kami yang di surga.”—Mat. 6:9.
Yehuwa punya keluarga yang terdiri dari para penyembah-Nya. Di surga, anggota keluarga-Nya adalah Yesus, yaitu ’ciptaan-Nya yang pertama’, dan para malaikat. (Kol. 1:15; Mz. 103:20) Waktu Yesus hidup di bumi, dia menunjukkan bahwa orang-orang yang beriman bisa menyebut Yehuwa sebagai Bapak mereka. Saat Yesus berbicara dengan murid-muridnya, dia menyebut Yehuwa sebagai ”Bapakku dan Bapak kalian”. (Yoh. 20:17) Ketika kita membaktikan diri kepada Yehuwa dan dibaptis, kita bergabung bersama saudara-saudari kita menjadi satu keluarga yang saling mengasihi. (Mrk 10:29, 30) Yehuwa adalah Bapak yang menyayangi anak-anak-Nya. Bagi Yesus, Yehuwa itu Bapak yang hangat, pengasih, dan mudah didekati, bukan penguasa yang dingin. Nah, Yesus mau kita menganggap Yehuwa seperti itu juga. Ini terlihat dari doa yang dia ajarkan kepada murid-muridnya. Dia memulai doa itu dengan kata-kata: ”Bapak kami.” Sebenarnya, Yesus bisa saja meminta kita untuk memanggil Yehuwa dengan sebutan ”Yang Mahakuasa”, ”Pencipta”, atau ”Raja Kekekalan”, karena Alkitab memang menyebut Yehuwa dengan gelar-gelar itu. (Kej. 49:25; Yes. 40:28; 1 Tim. 1:17, ctk.) Tapi, Yesus mau kita menggunakan sebutan yang lebih akrab, yaitu ”Bapak”. w21.09 20 ¶1, 3
Minggu, 15 Oktober
Akhirnya Manasye tahu bahwa Yehuwa adalah Allah yang benar.—2 Taw. 33:13.
Raja Manasye tidak mendengarkan peringatan yang Yehuwa berikan melalui para nabi-Nya. Akhirnya, ”Yehuwa membuat para panglima raja Asiria melawan [Yehuda]”. Lalu, ”Manasye ditangkap dengan kait, diikat dengan dua rantai tembaga, dan dibawa ke Babilon”. Sewaktu dipenjarakan di Babilon, Manasye benar-benar memikirkan kesalahannya. Dia ”terus merendahkan dirinya di hadapan Allah leluhurnya”. Manasye juga ”memohon belas kasihan Yehuwa Allahnya” dan ”terus berdoa kepada-Nya”. (2 Taw. 33:10-12) Akhirnya, Yehuwa menjawab doa-doa Manasye. Dari doa-doa itu, Yehuwa bisa melihat bahwa dia sudah benar-benar berubah. Yehuwa pun mau mengampuni Manasye dan mengizinkan dia menjadi raja lagi. Manasye memanfaatkan kesempatan itu untuk menunjukkan bahwa dia sudah benar-benar bertobat. w21.10 4 ¶10-11
Senin, 16 Oktober
Berdua lebih baik daripada sendiri, karena ada upah yang baik untuk kerja keras mereka.—Pkh. 4:9.
Akuila dan Priskila harus meninggalkan daerah yang sudah mereka kenal, mencari rumah baru, dan memulai bisnis di tempat yang baru. Setelah pindah ke Korintus, Akuila dan Priskila membantu sidang setempat dan bekerja sama dengan Paulus untuk menguatkan saudara-saudari di sana. Belakangan, mereka pindah ke kota-kota lain yang membutuhkan lebih banyak pemberita kabar baik. (Kis. 18:18-21; Rm. 16:3-5) Mereka berdua pasti menikmati kehidupan yang benar-benar bahagia dan memuaskan! Pasangan suami istri bisa meniru Priskila dan Akuila dengan mengutamakan Kerajaan Allah. Saudara perlu berbicara dengan pasangan Saudara tentang cita-cita yang ingin kalian capai. Waktu terbaik untuk melakukan hal itu adalah sewaktu kalian masih berpacaran. Kalau kalian menetapkan cita-cita rohani dan berupaya keras untuk mengejarnya, kalian akan punya banyak kesempatan untuk merasakan sendiri bantuan Yehuwa.—Pkh. 4:12. w21.11 17 ¶11-12
Selasa, 17 Oktober
Kalian semua harus menghormati ayah dan ibu kalian . . . Akulah Yehuwa Allah kalian.—Im. 19:3.
Jelaslah, kita harus menaati perintah Yehuwa untuk menghormati orang tua kita. Ingatlah bahwa perintah untuk menghormati orang tua yang ada di Imamat 19:3 muncul setelah kata-kata ini: ”Kalian harus kudus karena Aku kudus. Akulah Yehuwa Allah kalian.” (Im. 19:2) Sewaktu kita merenungkan perintah Yehuwa di Imamat 19:3, kita bisa memikirkan pertanyaan ini: ’Apakah saya menghormati orang tua saya?’ Kalau Saudara merasa bahwa selama ini Saudara kurang memperhatikan orang tua Saudara, Saudara bisa berubah mulai sekarang. Saudara memang tidak bisa mengubah masa lalu, tapi Saudara bisa bertekad untuk menghabiskan lebih banyak waktu bersama mereka. Atau, Saudara mungkin bisa membantu mereka secara materi dan rohani. Selain itu, Saudara juga bisa menyemangati dan menghibur mereka. Kalau Saudara melakukan hal-hal itu, Saudara menaati perintah yang ada di Imamat 19:3. w21.12 4-5 ¶10-12
Rabu, 18 Oktober
Berhentilah menghakimi.—Mat. 7:1.
Raja Daud beberapa kali melakukan dosa besar. Misalnya, Daud berzina dengan Bat-syeba, dan dia bahkan mengatur agar suami Bat-syeba terbunuh dalam perang. (2 Sam. 11:2-4, 14, 15, 24) Akibatnya, Daud dan keluarganya, termasuk istri-istrinya yang lain, mengalami banyak kesulitan. (2 Sam. 12:10, 11) Pada kesempatan lain, Daud memerintahkan agar jumlah prajuritnya dihitung, padahal Yehuwa tidak memerintahkannya. Itu menunjukkan bahwa Daud tidak mengandalkan Yehuwa. Akibat kesalahan Daud itu, 70.000 orang Israel meninggal karena wabah penyakit! (2 Sam. 24:1-4, 10-15) Apakah Saudara menghakimi Daud agar tidak diampuni oleh Yehuwa? Yehuwa tidak pernah merasa seperti itu. Dia berfokus pada kesetiaan Daud sepanjang hidupnya dan pertobatannya yang tulus. Itulah sebabnya Yehuwa mau mengampuni dosa-dosa Daud yang besar. Yehuwa tahu bahwa Daud sangat mengasihi Dia dan ingin melakukan apa yang benar. Kita semua pasti bersyukur karena Allah kita berfokus pada hal-hal baik dalam diri kita.—1 Raj. 9:4; 1 Taw. 29:10, 17. w21.12 19 ¶11-13
Kamis, 19 Oktober
Saat itu juga, dia bisa melihat. Lalu dia mulai mengikuti Yesus dan memuliakan Allah.—Luk. 18:43.
Yesus menunjukkan belas kasihan kepada mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Coba perhatikan apa yang dia beri tahukan kepada Yohanes Pembaptis: ”Orang buta sekarang melihat, orang lumpuh berjalan, penderita kusta disembuhkan, orang tuli mendengar, [dan] orang mati dibangkitkan.” Sewaktu melihat mukjizat Yesus, ”semua orang . . . memuji Allah”. (Luk. 7:20-22) Orang-orang Kristen ingin meniru Yesus dengan berbelaskasihan kepada mereka yang memiliki keterbatasan fisik. Kita mau berbaik hati dan sabar kepada mereka. Memang, Yehuwa tidak memberi kita kesanggupan untuk melakukan mukjizat. Tapi, kita punya kehormatan untuk memberitakan kabar baik kepada orang yang buta secara jasmani dan rohani. Kita memberi tahu mereka bahwa di masa depan, manusia akan tinggal di bumi firdaus dan benar-benar sehat secara jasmani dan rohani. (Luk. 4:18) Setelah mendengar kabar baik ini, banyak orang tergerak untuk memuji Allah. w21.12 9 ¶5
Jumat, 20 Oktober
Kalian mendengar tentang ketekunan Ayub, dan kalian melihat berkat yang Yehuwa berikan.—Yak. 5:11.
Yakobus menggunakan contoh Ayub dari Firman Allah supaya pembacanya memahami bahwa Yehuwa selalu memberkati orang yang bertekun. Jadi sewaktu mengajar, Yakobus selalu menggunakan Firman Allah. Penjelasannya juga sederhana dan masuk akal. Dengan begitu, Yakobus tidak membuat para pembacanya berfokus kepada dirinya, tapi kepada Yehuwa. Pelajarannya: Kita harus mengajar dengan sederhana dan menggunakan Firman Allah. Sewaktu kita mengajar, tujuannya bukanlah supaya orang terkesan dengan kita, tapi supaya mereka menyadari bahwa Yehuwa sangat berhikmat dan benar-benar peduli kepada mereka. (Rm. 11:33) Untuk itu, kita harus selalu menggunakan Alkitab. Misalnya, untuk membantu pelajar Alkitab kita menjalankan apa yang dia pelajari, kita tidak akan mengatakan, ’Kalau saya jadi kamu, saya akan . . . ’ Sebaliknya, bantulah dia untuk memikirkan contoh-contoh Alkitab serta memahami pandangan dan perasaan Yehuwa. Dengan begitu, sewaktu dia menjalankan apa yang dia pelajari, dia akan melakukannya karena ingin menyenangkan Yehuwa, bukan kita. w22.01 10-11 ¶9-10
Sabtu, 21 Oktober
Kasihilah sesama kalian seperti diri kalian sendiri.—Im. 19:18.
Allah tidak senang kalau kita melakukan sesuatu yang merugikan orang lain. Tapi, ada hal lain lagi yang perlu kita ingat. Seorang Kristen harus mengasihi sesama seperti dirinya sendiri kalau dia mau menyenangkan Allah. Yesus menekankan bahwa perintah yang dicatat di Imamat 19:18 sangat penting. Seorang Farisi pernah bertanya kepada Yesus, ”Perintah mana yang paling utama dalam Taurat?” Yesus menjawab bahwa ”yang paling utama dan paling penting” adalah perintah untuk mengasihi Yehuwa dengan sepenuh hati, sepenuh jiwa, dan seluruh pikiran. Lalu, Yesus mengutip Imamat 19:18 dengan mengatakan, ”Yang kedua, yang mirip dengan itu, ’Kasihilah sesamamu seperti dirimu sendiri.’” (Mat. 22:35-40) Ada banyak cara kita bisa menunjukkan kasih kepada sesama. Salah satu caranya adalah dengan menerapkan nasihat di Imamat 19:18: ”Jangan membalas atau mendendam kepada sesama kalian.” w21.12 10-11 ¶11-13
Minggu, 22 Oktober
Ketika melihat badai, dia menjadi takut. Ketika mulai tenggelam, dia berteriak, ”Tuan, tolong aku!”—Mat. 14:30.
Yesus pun mengulurkan tangannya dan menolong Rasul Petrus. Ingatlah bahwa saat Petrus terus berfokus melihat Yesus, dia bisa berjalan di atas air. Tapi saat melihat badai, dia menjadi ketakutan dan mulai tenggelam. (Mat. 14:24-31) Kita bisa belajar dari pengalaman Petrus. Sewaktu Petrus keluar dari perahu dan mulai berjalan di atas air, dia tidak menyangka bahwa dia akan takut melihat badai dan mulai tenggelam. Petrus pasti ingin terus berjalan di atas air dan mendekati Yesus. Tapi karena dia tidak terus berfokus melihat Yesus, dia mulai tenggelam. Sekarang, kita tidak bisa berjalan di atas air, tapi kita juga menghadapi berbagai ujian iman. Kalau kita tidak terus berfokus pada Yehuwa dan janji-janji-Nya, kita bisa mulai tenggelam secara rohani. Jadi, meskipun kita mengalami berbagai masalah yang bagaikan badai dalam hidup kita, kita harus terus berfokus pada Yehuwa dan terus ingat bahwa Dia sanggup membantu kita. w21.12 17-18 ¶6-7
Senin, 23 Oktober
Aku akan masuk ke rumah-Mu karena besarnya kasih setia-Mu.—Mz. 5:7.
Berdoa, belajar Alkitab, dan merenung adalah bagian dari ibadah kita. Sewaktu berdoa, kita berbicara dengan Bapak kita yang di surga, yang sangat menyayangi kita. Sewaktu belajar Alkitab, kita sebenarnya sedang belajar dari Allah, yang adalah Sumber hikmat. (Ams. 2:1-5) Sewaktu merenung, kita memikirkan sifat-sifat Yehuwa yang mengagumkan. Kita juga membayangkan hal-hal menakjubkan yang akan Dia lakukan untuk kita dan semua ciptaan lainnya. Jelaslah, berdoa, belajar Alkitab, dan merenung itu sangat penting. Itulah cara yang terbaik untuk menggunakan waktu. Tapi, waktu kita untuk melakukan hal-hal itu terbatas. Jadi, apa yang bisa kita lakukan untuk memanfaatkan sebaik-baiknya waktu yang ada? Kalau bisa, carilah tempat yang sepi. Coba perhatikan teladan Yesus. Sebelum memulai pelayanannya di bumi, Yesus pergi ke padang belantara dan berada di sana selama 40 hari. (Luk. 4:1, 2) Di tempat yang sepi itu, Yesus bisa berdoa kepada Yehuwa dan merenungkan bagaimana dia bisa menjalankan kehendak Bapaknya. Hasilnya, Yesus siap menghadapi ujian yang sebentar lagi akan dia alami. w22.01 27 ¶7-8
Selasa, 24 Oktober
Rencana . . . berhasil kalau ada banyak penasihat.—Ams. 15:22.
Seorang penatua atau rekan seiman yang matang mungkin memberi tahu kita tentang sesuatu yang perlu kita perbaiki. Saat seseorang memberikan nasihat berdasarkan Alkitab karena dia mengasihi kita, kita perlu mencamkan dalam hati. Sewaktu kita mendapat nasihat secara langsung, kita mungkin sulit untuk menerimanya atau bahkan tersinggung. Memang, kita tahu bahwa kita tidak sempurna dan bisa melakukan kesalahan. Tapi sewaktu seseorang menunjukkan kesalahan kita dan menasihati kita, mungkin kita sulit menerimanya. (Pkh. 7:9) Kita mungkin berupaya membenarkan diri. Bisa jadi, kita mempertanyakan alasan orang itu menasihati kita, atau kita tidak senang dengan cara dia memberikan nasihat. Bahkan, kita mungkin berpikir, ’Dia tidak berhak menasihati saya! Dia sendiri punya banyak kelemahan.’ Dan kalau kita tidak suka dengan nasihat yang dia berikan, kita mungkin akan mengabaikannya atau meminta nasihat dari orang lain untuk mendapat nasihat yang lebih kita sukai. w22.02 8-9 ¶2-4
Rabu, 25 Oktober
Jika kalian terus percaya dan tidak resah, kalian akan kuat.—Yes. 30:15.
Di dunia baru, apakah masih ada yang akan menguji iman kita kepada Yehuwa? Bisa jadi. Dulu, tidak lama setelah orang Israel dibebaskan dari perbudakan di Mesir, mereka mulai mengeluh karena merindukan makanan di Mesir. Mereka muak dengan manna yang Yehuwa sediakan dan bahkan menyebutnya sebagai ”roti yang menjijikkan”. (Bil. 11:4-6; 21:5) Bagaimana dengan kita? Apakah kita akan bersikap seperti mereka setelah kesengsaraan besar berakhir? Saat itu, bisa jadi ada banyak pekerjaan yang harus kita lakukan untuk membersihkan bumi dan mengubahnya menjadi Firdaus. Awalnya, hidup kita mungkin tidak nyaman. Apakah kita akan mengeluh kepada Yehuwa seperti orang Israel dulu? Kalau dari sekarang kita menghargai semua hal yang Yehuwa sediakan, kita bisa lebih menghargai apa yang Dia sediakan nanti. w22.02 7 ¶18-19
Kamis, 26 Oktober
Sepuluh pria . . . pasti akan memegang erat-erat jubah seorang Yahudi. Mereka akan berkata, ”Kami mau ikut bersama kalian.”—Za. 8:23.
Dalam nubuat di Zakharia 8:23, ungkapan ”seorang Yahudi” dan ”kalian” memaksudkan orang-orang terurap yang masih ada di bumi. (Rm. 2:28, 29) ”Sepuluh pria dari semua bangsa dan bahasa” memaksudkan domba-domba lain. Mereka ”memegang erat-erat jubah” dari orang-orang terurap. Ini menunjukkan bahwa domba-domba lain setia kepada orang-orang terurap dan ingin bergabung bersama mereka dalam ibadah yang murni. Demikian juga, nubuat di Yehezkiel 37:15-19, 24, 25. Ada dua tongkat yang disebutkan dalam nubuat itu. Tongkat yang pertama adalah ”tongkat Yehuda”. Dulu, raja-raja Israel dipilih dari suku Yehuda. Jadi, ”tongkat Yehuda” memaksudkan orang-orang yang akan menjadi raja di surga. Tongkat yang kedua adalah ”tongkat Efraim”, dan tongkat itu memaksudkan orang-orang yang akan hidup di bumi. Menurut nubuat itu, Yehuwa akan menyatukan kedua kelompok tersebut agar mereka menjadi ”satu tongkat”. Itu berarti mereka akan melayani bersama-sama di bawah satu Raja, yaitu Yesus Kristus. Sekarang, nubuat itu sudah menjadi kenyataan.—Yoh. 10:16. w22.01 22 ¶9-10
Jumat, 27 Oktober
Hati-hati, jangan sampai kalian melakukan apa yang benar di depan orang hanya untuk diperhatikan mereka.—Mat. 6:1.
Yesus pernah menyebutkan tentang orang-orang yang memberikan sedekah tapi berupaya untuk dilihat dan dipuji orang lain. Apa yang mereka lakukan kelihatannya baik, tapi Yehuwa tidak senang kepada mereka. (Mat. 6:2-4) Kita bisa menjadi orang yang benar-benar baik hanya kalau kita melakukan apa yang benar dengan alasan yang tidak mementingkan diri. Jadi, coba pikirkan: ’Selain mengetahui hal baik yang perlu dilakukan, apakah saya juga benar-benar melakukannya? Apa alasan saya melakukan hal itu?’ Yehuwa akan terus menggunakan kuasa kudus, atau tenaga aktif-Nya, untuk membantu kita. (Kej. 1:2) Jadi, tindakan yang aktif sangatlah penting. Misalnya, Yakobus menulis tentang iman, salah satu sifat yang dihasilkan oleh kuasa kudus, ”Iman tanpa perbuatan [itu] mati.” (Yak. 2:26) Semua sifat lain yang dihasilkan kuasa kudus juga harus disertai perbuatan. Setiap kali kita menunjukkan sifat-sifat tersebut, itu membuktikan bahwa kita dibimbing oleh kuasa kudus Allah. w22.03 11-12 ¶14-16
Sabtu, 28 Oktober
Seperti Allah yang kudus yang memanggil kalian, kalian harus kudus dalam seluruh tingkah laku kalian.—1 Ptr. 1:15.
Dari berbagai hal baik yang bisa kita lakukan untuk Yehuwa dan untuk orang lain, ada satu hal yang khususnya Rasul Petrus tekankan. Sebelum Petrus menasihati kita untuk menjadi kudus dalam seluruh tingkah laku kita, dia mengatakan, ”Siapkan pikiran kalian untuk bekerja keras.” (1 Ptr. 1:13) ”Bekerja keras” untuk melakukan apa? Petrus mengatakan bahwa saudara-saudara terurap Kristus akan ”’menyiarkan keagungan’ Allah, yang telah memanggil” mereka. (1 Ptr. 2:9) Sekarang, semua orang Kristen juga punya kehormatan untuk melakukan pekerjaan penting ini. Dibanding semua hal lain yang kita lakukan, pekerjaan inilah yang paling bermanfaat bagi orang-orang lain. Kita senang sekali karena bisa menjadi bagian dari umat yang kudus, yang terus mengabar dan mengajar dengan rajin dan bersemangat! (Mrk. 13:10) Kalau kita berupaya sebisa-bisanya untuk melakukan kegiatan ini, kita membuktikan bahwa kita mengasihi Allah dan sesama. Kita juga menunjukkan bahwa kita ingin menjadi kudus dalam seluruh tingkah laku kita. w21.12 13 ¶18
Minggu, 29 Oktober
Kalau kalian memaafkan seseorang, saya memaafkan dia juga.—2 Kor. 2:10.
Rasul Paulus selalu berpikiran positif tentang saudara-saudarinya. Paulus tahu bahwa meskipun mereka mungkin berbuat salah, itu tidak berarti mereka orang yang jahat. Paulus mengasihi saudara-saudarinya dan berfokus pada sifat-sifat baik mereka. Meski mereka kadang sulit untuk melakukan apa yang benar, dia yakin bahwa mereka sebenarnya mau melakukan itu dan hanya butuh bantuan. Coba pikirkan bagaimana Paulus membantu Euodia dan Sintikhe, dua saudari di sidang Filipi. (Flp. 4:1-3) Kedua saudari itu sepertinya berselisih sehingga mereka tidak bersahabat lagi. Tapi, Paulus tetap memperlakukan mereka dengan baik dan tidak bersikap kritis. Dia berfokus pada sifat-sifat baik mereka. Saudari-saudari ini sudah lama melayani Yehuwa dengan setia, dan Paulus tahu bahwa Yehuwa mengasihi mereka. Karena itu, Paulus mau menasihati mereka untuk berdamai. Dan karena dia juga berpikiran positif tentang saudara-saudari yang lain, dia bisa tetap bersukacita dan bersahabat dengan semua orang di sidang itu. w22.03 30 ¶16-18
Senin, 30 Oktober
Yehuwa dekat dengan orang yang hancur hatinya; Dia menyelamatkan orang yang patah semangat.—Mz. 34:18.
Kedamaian yang Yehuwa berikan bisa membuat hati kita lebih tenang dan pikiran kita lebih jernih. Itulah yang dirasakan seorang saudari bernama Lusi. Dia bercerita, ”Saya sering merasa kesepian. Kadang, saya jadi merasa bahwa Yehuwa tidak menyayangi saya. Tapi, waktu perasaan seperti itu muncul, saya langsung berdoa dan mencurahkan perasaan saya kepada Yehuwa. Setelah itu, saya merasa lebih baik.” Pengalaman Lusi menunjukkan bahwa kita bisa mendapatkan kedamaian kalau kita berdoa. (Flp. 4:6, 7) Kita diyakinkan bahwa Yehuwa dan Yesus akan mendukung kita saat kita berduka. Kita juga belajar bahwa Allah Yehuwa dan Yesus Kristus sangat berbelaskasihan kepada semua orang, dan itu menggerakkan kita untuk mengabar dan mengajar dengan bersemangat. Selain itu, kita terhibur karena mengetahui bahwa Yehuwa dan Putra-Nya memahami kelemahan kita dan ingin menguatkan kita. Kita menantikan saatnya Yehuwa akan ”menghapus semua air mata” kita!—Why. 21:4. w22.01 15 ¶7; 19 ¶19-20
Selasa, 31 Oktober
Masuklah melalui gerbang yang sempit, karena gerbang yang lebar dan jalan yang luas itu menuju kemusnahan, dan banyak orang masuk melaluinya.—Mat. 7:13.
Yesus hanya menyebutkan dua jalan, yaitu ”jalan yang luas” dan ”jalan yang sesak”. (Mat. 7:14) Tidak ada jalan yang ketiga. Kita harus memilih jalan mana yang akan kita lewati. Ini adalah keputusan terpenting yang harus kita buat, karena keputusan ini menentukan apakah kita akan hidup abadi atau tidak. Banyak orang memilih ”jalan yang luas” karena jalan itu lebih mudah dilewati. Mereka memilih untuk tetap berada di jalan itu dan mengikuti orang-orang yang berjalan di sana. Sayangnya, mereka tidak sadar bahwa Setan-lah yang ingin mereka berjalan di situ dan bahwa jalan itu sebenarnya menuju kematian. (1 Kor. 6:9, 10; 1 Yoh. 5:19) Jalan yang satu lagi adalah ”jalan yang sesak”, dan Yesus mengatakan bahwa hanya sedikit yang bisa menemukannya. Mengapa? Perhatikan bahwa di ayat berikutnya, Yesus memperingatkan ada banyak nabi palsu yang menyesatkan orang-orang.—Mat. 7:15. w21.12 22-23 ¶3-5